Liem Swie King




Liem Swie King, (lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956; umur 56 tahun) adalah seorang pemain bulu tangkis yang dulu selalu menjadi buah bibir sejak dia mampu menantang Rudy Hartono di final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Kemudian Swie King menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan paling bergengsi saat itu dengan tiga kali menjadi juara ditambah empat kali menjadi finalis. Bila ditambah dengan turnamen "grand prix" yang lain, gelar kemenangan Swie King menjadi puluhan kali. Swie King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas. Tiga di antaranya Indonesia menjadi juara.

Mulai bermain bulu tangkis sejak kecil atas dorongan orangtuanya di kota kelahiran Kudus, Swie King yang lahir 28 Februari 1956 akhirnya masuk ke dalam klub PB Djarum yang banyak melahirkan para pemain nasional.


Usai menang di Pekan Olahraga Nasional saat berusia 17 tahun, akhir 1973, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Setelah 15 tahun berkiprah, Swie King merasa telah cukup dan mengundurkan diri pada tahun 1988. Saat aktif sebagai pemain, Liem terkenal dengan pukulan smash andalannya, berupa jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.

Liem Swie King sebenarnya dari marga Wu bukan marga Lin. Pergantian marga seperti ini pada masa dahulu zaman Hindia Belanda biasa terjadi, pada masa itu seorang anak dibawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yg menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada "orang tua" yg lain, "orang tua" ini bisa saja bermarga sama atau lain dari aslinya.

Perjalanan Hidup

Liem Swie King lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. Ia terkenal dengan pukulan jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.


Sejak kecil Swie King sudah bermain bulu tangkis atas dorongan orangtuanya di Kudus, kota kelahirannya. Kepiawaiannya bermain bulu tangkis makin terasah ketika ia masuk ke dalam klub PB Djarum yang telah banyak melahirkan para pemain nasional.


Dalam catatan Pusat Data Tokoh Indonesia, Liem Swie King meraih berbagai prestasi selama 15 tahun berkiprah di bulu tangkis. Pertama kali, Swie King meraih Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972). Pada usia 17 tahun (1973), ia menjuarai (II) Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Ia pun meraih Juara Kejurnas 1974 dan 1975.

Kemudian berkiprah di kejuaraan internasional, meraih Juara II All England (1976 & 1977). Kemudian tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, 1981), kejuaraan paling bergengsi kala itu. Selain itu, puluhan medali grand prix lainya, medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan tiga medali emas Piala Thomas (1976, 1979, 1984) dari enam kali membela tim Piala Thom

Demi Masa Depan

Demi menjamin masa depan, ia pun mengundurkan diri sebagai pemain nasional bulu tangkis tahun 1988. Kendati ia tidak langsung bisa menemukan kegiaatan usaha untuk mencapai cita-citanya. Setahun setelah berhenti itu, King nyaris dapat dikatakan menganggur. Sebab keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis.

Kemudian ia mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Kini usahanya telah mempekerjakan lebih dari 400 karyawan. Berkantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan.


Bagaimana King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan? Rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus.

Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang. Dalam mengelola usahanya, ia pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya.


Hasilnya, selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta, banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.

Menurut informasi dari kerabat dekatnya, Liem Swie King sebenarnya dari marga Oei bukan marga Liem. Pergantian marga seperti ini pada masa dahulu zaman Hindia Belanda biasa terjadi, pada masa itu seorang anak dibawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yg menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada "orang tua" yg lain, "orang tua" ini bisa saja bermarga sama atau lain dari aslinya.

Pebulu tangkis yang pernah terjun ke dunia film sebagai bintang film Sakura dalam Pelukan, ini kini hidup bahagia bersama isteri dan tiga orang anaknya Alexander King, Stevani King dan Michele King. Ternyata, anak-anaknya tidak tahu bahwa King seorang pahlawan bulu tangkis Indonesia.


Belakangan, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, mernjadikan kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulu tangkis Indonesia sebagai inspirasi untuk membuat film tentang bulu tangkis. Film itu memang bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King. ►Tian Son Lang

Kiprah di luar bulu tangkis

Pendidikan

- SD, Kudus (1968) - SMP, Kudus (1971) - SMA, Kudus (1974)

Karier

- Pebulu tangkis Indonesia - Pengusaha Hotel dan Spa

Nasional

  • Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972)
  • Juara II PON 1973
  • Juara Kejurnas 1974, 1975

International


Tunggal

  • 1974: Semi Finalis Asian Games Tehran
  • 1976: Finalis All England Open, Finalis Kejuaraan Asia
  • 1977: Finalis All England Open, Juara Denmark Open, Juara Swedia Open, Juara SEA Games
  • 1978: Juara All England Open, Juara Asian Games Bangkok
  • 1979: Juara All England Open
  • 1980: Finalis Kejuaraan Dunia, Finalis All England
  • 1981: Juara All England Open, Semi Finalis World Games St.Clara, Juara SEA Games
  • 1982: Finalis Asian Games New Dehli, Juara Piala Dunia
  • 1983: Finalis Kejuaraan Dunia, Juara Indonesia Open, Juara Malaysia Open
  • 1984: Finalis All England Open, Finalis World Badminton Grand Prix
  • 1985: Semi Finalis All England Open

Ganda

  • 1983: Finalis SEA Games (bersama Hadibowo)
  • 1984: Juara Piala Dunia (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1985: Juara Piala Dunia, Juara Indonesia Open, Semi Finalis Kejuaraan Dunia , Finalis SEA Games (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1986: Juara Piala Dunia, Semi Finalis Asian Games Seoul (bersama Bobby Ertanto); Juara Indonesia Open (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1987: Juara Asia (bersama Bobby Ertanto); Juara SEA Games, Juara Japan Open, Juara Indonesia Open, Juara Taiwan Open, Finalis Thailand Open (bersama Eddy Hartono)

Beregu

  • 1976: Juara Piala Thomas
  • 1977: Juara SEA Games
  • 1978: Juara Asian Games
  • 1979: Juara Piala Thomas, Juara SEA Games
  • 1981: Finalis SEA Games
  • 1982: Finalis Piala Thomas, Finalis Asian Games
  • 1983: Juara SEA Games
  • 1984: Juara Piala Thomas
  • 1985: Juara SEA Games
  • 1986: Finalis Piala Thomas, Semi Finalis Asian Games
  • 1987: Juara SEA Games

Speed King

Jakarta - Liem Swie King memandangi dua usulan sampul buku dengan saksama, Selasa, 19 Mei 2009, di halaman belakang kantor Rolling Stone. Wajahnya ada di sampul itu, dia memakai jas lengkap dengan dasi, tersenyum sambil memeluk raket badminton di dadanya. Buku itu berjudul Panggil Aku King, dengan huruf A diganti oleh gambar kok. Sampul bukunya seakan-akan ingin menguatkan kesan bahwa yang diceritakan di buku itu adalah atlet badminton. Mungkin untuk memudahkan orang yang tak tahu siapa King yang diceritakan di buku itu.

Sebenarnya, sudah banyak orang yang meminta King untuk menulis biografi, tapi dia selalu menolaknya. Karena King khawatir menimbulkan kesan menyombongkan diri. Lantas, pikiran itu berubah setelah Andy F Noya berbincang dengannya dan meyakinkan King bahwa ini bukan persoalan menyombongkan diri, tapi persoalan mencatat sejarah. Mozaik sejarah badminton Indonesia akan kurang tanpa sejarah soal Liem Swie King. Dan King pun bisa menerima argumen itu. Selasa siang, King memeriksa cetakan buku sebelum akhirnya diperbanyak. Penulis buku itu, jurnalis Kompas bernama Robert Adhi Ksp, ada di sana. Robert sebenarnya lebih banyak menulis berita kriminal, tapi karena dia penggemar badminton, tawaran menulis buku itu disambutnya dengan sigap.


Bukan hanya buku, di saat yang bersamaan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen merilis film berjudul King. Film ini bercerita tentang seorang ayah yang ingin anaknya berprestasi di olahraga badminton supaya bisa seperti idolanya, Liem Swie King. Ale dan Nia adalah penggemar King, mereka ingin prestasi King bisa memberi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Saya tanya juga tujuannya dulu. Antara lain buat memotivasi pemain-pemain muda, untuk merangsang anak-anak sekarang cinta bulu tangkis. Dan sekarang banyak orang tua nggak suka anaknya main bulu tangkis, ya termasuk saya juga. Nah kenapa? Mungkin sekarang cabangnya lain, banyak pilihan. Tapi nggak semua orang kayak saya. Harus dikasih semangat juga. Supaya lebih menyukai, mau menekuni bulu tangkis, itu yang kita harapkan,Kata King.

Esok harinya, saya bertemu king di rumahnya di kawasan Darmawangsa, Jakarta Selatan. Halamannya cukup luas. Pepohonan rimbun menyelimuti halaman depan itu, sehingga membuat suasana terasa nyaman meskipun saat tengah hari di panasnya ibu kota. Garasi mobilnya juga cukup luas untuk bisa menampung tiga bahkan lima mobil. Di masa pensiunnya sebagai olahragawan, King hidup berkecukupan. Potret suram atlet Indonesia di masa tua tak tampak pada kehidupan King. Soal apakah seorang atlet bisa bertahan hidup atau tidak, kata King, tergantung pada individunya. Dia rasa, mereka harusnya bisa juga mempersiapkan diri sendiri.



Pada awalnya bukan tujuan saya hidup dari situ. Masih idealis. Bisa juara saja sudah puas. Menerima ya kita syukuri saja, bukan untuk cari materi. Kami kejar prestasi. Makanya ya seperti dapat fresh money, pada masa itu memang hanya akibat, kata King.

Liem Swie King lahir di Kudus, kota kecil di jalur utara timur Jawa Tengah pada tahun 1956. Jatuh cinta pada badminton adalah sesuatu yang tak bisa dihindari jika kita bicara dalam konteks kehidupan King. Dia dibesarkan di lingkungan keluarga badminton. Orang tuanya yang pedagang senang bermain badminton. Kakak-kakaknya juga pemain badminton. Dua orang kakak perempuannya adalah atlet Uber Cup. Di belakang rumah King, terdapat lapangan badminton. King tak bisa mengelak dari badminton. Memang, itu bukan sesuatu yang dipaksakan oleh orangtuanya. Awalnya, ketika masih kecil, King hanya bermain badminton karena ikut-ikutan. Lama-lama selera itu terbentuk de-ngan sendirinya. Tahun 74, ketika umur King masih tujuh belas tahun, King pertama kali menjuarai Kejurnas. Dia bisa mengalahkan Icuk Sugiarto dan Iie Sumirat yang waktu itu adalah pemain nasional dengan nama besar. Mungkin pada waktu itu saya merasa ada harapan besar ya, katanya.


Sebelum menjuarai Kejurnas, King sudah menjadi juara di tingkat Jawa Tengah. Sejak momen Kejurnas itu, kepercayaan diri King menjadi lebih mantap. Waktu itu, dia hanya bermodalkan semangat dan motivasi. Kalau menang, ya dia puas. Keluarga dan sekolah bisa ikut bangga. Awalnya, motivasi King sesederhana itu. 

Setelah lulus SMA, King sempat bimbang selama dua tahun. Orangtuanya mengharapkan King kuliah dan bisa menyelesaikan S1. Dia sempat mendaftar di Universitas Diponegoro Semarang, lalu pindah ke Universitas Trisakti Jakarta dan mengambil jurusan ekonomi demi menyenangkan orangtua. Kenyataannya, seiring dengan berjalannya waktu dan padatnya jadwal latihan serta pertandingan, King harus memilih.


Akhirnya saya memutuskan untuk bulu tangkis, dengan harapan bahwa kuliah bisa ditunda. Kalau bulu tangkis nggak bisa ditunda. Saya prioritaskan untuk bulu tangkis dulu deh waktu itu. Tapi ya, sudah kecemplung di situ, akhirnya di umur tiga puluhan, kuliah lagi sudah malas, kata King.

Momen apa yang membuat Anda memilih badminton? tanya saya.
Karena prestasinya dari tahun ke tahun membaik, akhirnya di tahun 76, bisa masuk final All England, ketemu Rudi Hartono. Akhirnya, saya milih badminton sajalah, jawab King.

Tahun 1976 disebut King dalam bukunya sebagai tahun keemasan. Golden age di mana dia sudah mulai fokus pada turnamen-turnamen internasional. Di babak perempat final All England 1976, King membuyarkan harapan Svend Pri, atlet Denmark, juara bertahan All England 1975. Di final, King bertemu Rudy Hartono, pahlawan badminton Indonesia yang telah menjuarai All England tujuh kali. Dan ketika Rudy Hartono bertanding melawan Liem Swie King di final All England 1976, Rudy menjadi atlet pertama di dunia yang menjadi juara All England delapan kali. Sepulangnya ke Indonesia, King dimarahi oleh pemilik Djarum yang mendanai pembinaan olahraga badminton di Kudus Robert Budi Hartono. Budi menganggap King tak bertanding dengan penuh semangat. Banyak orang mengira, King sengaja mengalah di final, supaya Rudy Hartono jadi juara delapan kali. Di buku itu, King tak menjawab dengan pasti apakah dia benar mengalah. Tapi dia mengatakan menyesal tak menjuarai All England 76, padahal merasa ada di puncak prestasi dan kondisinya sangat fit. Saat uji coba, King mampu mengalahkan semua pemain nasional menjelang Thomas Cup: Iie Su-mirat, Tjun Tjun maupun Rudy Hartono.



Ada yang bilang Anda mengalah, apakah benar? saya mencoba bertanya sekali lagi.

Sebetulnya itu tebakan-tebakan masyarakat. Ya itu kejadiannya bagaimana ya waktu itu, sudah terlalu lama juga, saya rasa sudah nggak perlu diungkap lagi. Saya juga menghargai Rudi, saya sih tidak mau komentar apa-apa. Soal pertandingan itu sendiri, saya no comment. Cuma kenyataannya saya kalah. Tapi dua tahun lagi saya tanding lagi, dan menang, kata King.

Bagaimana perasaannya waktu itu?
Tentunya ya ada susahnya. Kenapa harus ketemu sesama Indonesia? Tapi ingin juga ketemu Rudy. Ya waktu itu perasaannya campur aduk. Sudah senang. Sudah bisa mencapai cita-cita itu.

Tahun 78, King tak terkalahkan selama 33 bulan. Dia menjadi juara di Kejuaraan Terbuka Denmark, juara All England 78 dan juara Asian Games 78. Dia mengalahkan semua pemain terbaik dunia, mulai dari Morten Frost Hansen, Svend Pri, Flemming Delfs, Thomas Kihlstroem, Iie Sumirat, Rudy Hartono dan dua raksasa muda China Luan Jin dan Han Jian. Sosok King sebagai pewaris tahta Raja Badminton Indonesia semakin kuat. Dia meneruskan tahta yang pernah dipegang Ferry Soneville, Tan Joe Hok dan Rudy Hartono. Tahta yang setelah era King dilanjutkan oleh Alan Budikusuma, Haryanto Arbi dan kini dipegang Taufik Hidayat.

King juga dikenal karena telah menciptakan Kings Smash, julukan yang diberi oleh jurnalis kepadanya. Pukulan smes yang hingga kini dibicarakan banyak orang. Sebagai pemain, King adalah pemain yang agresif. Padahal ketika berbicara, tutur bicaranya halus, sopan dan tak terlihat seperti orang yang agresif. Kehidupan sehari-harinya berbeda dengan ketika di lapangan.


 
Saya di luar lapangan nggak begitu lho. Kalau di luar nggak agresif. Kalau di lapang-an saya cenderung agresif. Kalau di lapang-an, galak. Kalau ditanya kenapa galaknya di lapangan, saya nggak tahu. Kalau di lapang-an, nafsu membunuhnya ada, kata King sambil tertawa.

Tapi, ada satu hal yang akhirnya membuat pandangannya di lapangan dengan pandang-annya di kehidupan sehari-hari sama: tak mau kalah dan selalu ingin lebih menonjol, bahkan cenderung ke arah agak egois. Itu, kata King, karena pengalaman bertahun-tahun hidup di pelatnas di mana suasana kompetisi begitu besar. Setiap hari, selama di pelatnas, dia bangun pukul setengah tujuh pagi. Latihan fisik lari hingga angkat beban dikerjakan hingga pukul delapan. Dalam seminggu, ada empat hari di mana jadwal latihannya ditambah di siang hari, dari pukul sebelas siang hingga pukul satu. Pukul empat sore hingga pukul tujuh malam dia berlatih lagi. Hiburan yang paling meriah adalah pergi ke bioskop atau makan di luar. Dan dia melakukan itu selama belasan tahun.

Saya merasa ada sesuatu yang hilang. Umur belasan itu masih senang apa senang ini, tapi terlewatkan. Tapi ya itu pengorbanan. Dan itu harus ada. Nggak bisa terus mau enak, mau juara, nggak mungkin, masa yang hilang itu pasti ada, kata King.

Tahun 1988, di usia 32 tahun, King meng-undurkan diri dari dunia badminton. Di bukunya, King mengatakan: Aku bukan lagi King yang pada tahun 1974 me-ngalahkan Tjun Tjun 15-0 dalam Kejurnas di Semarang. Aku bukan lagi King yang pada tahun 1978 merebut juara All England. Aku bukan lagi King yang pernah selama 33 bulan tak terkalahkan oleh siapapun. Aku adalah King yang pada tahun 1988 berusia 32 tahun, usia yang rawan bagi olahragawan. Sudah saatnya aku mundur sebagai pemain bulu tangkis dengan kepala tegak.


Keinginan pensiun datang dari diri sen-diri? tanya saya.
Kalau saya nongkrong terus di pelatnas, nggak baik. Masih ada senior terus di sana. Kecuali mereka bisa menembus kayak saya mengalahkan Rudy, itu lain. Tapi kalau nggak, yang senior harus mundur, idealnya begitu. Itu akan memberi jalan pada yang muda-muda untuk maju, kata King.

Setelah pensiun, selama satu tahun, King sempat mencari pekerjaan ke sana sini, sebelum akhirnya membantu usaha keluarganya, mengurus hotel. Secara kecil-kecilan, King menjalankan usaha properti. Sejak masih aktif, King mengatakan sering menyimpan uang yang didapatnya de-ngan membeli tanah. Kini, selain mengurus hotel, King menjalankan usaha health spa. Dia tak terlalu sering bermain badminton. Yang paling rutin dilakukan adalah tenis seminggu dua kali. Anak-anaknya tak ada yang mengikuti jejak King menjadi atlet. Saya sudah kasih tahu juga, atlet itu ya harus begitu, kemungkinannya berhasil ya begitu. Kalau sekolah, ya asal kamu tekun, mengikuti terus, pasti lulus, kata King.

Apa inti dari kesuksesan? tanya saya.

Nomor satu adalah bakat. Kedua, dari kita sendiri: dispilin, motivasi, dan harus ada pengorbanan, katanya.

Legenda

LIEM Swie King adalah salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku sekolah menengah 1977-1982, Liem Swie King adalah pahlawan bulutangkis Indonesia. Saya waktu itu menonton King bertanding dalam arena internasional di TVRI. Rasanya bangga menyaksikan Liem Swie King menjadi juara All England tiga kali (1978, 1979, 1981), dan bersama kawan-kawannya tiga kali merebut Piala Thomas (1976, 1979, 1984). Intinya, saya kagum pada Liem Swie King yang membawa nama Indonesia harum di mata dunia.

King menggantung raket badminton sejak 20 tahun silam atau pada tahun 1988. Lalu kemana gerangan Liem Swie King selama ini? Pekan lalu, saya bertemu Liem Swie King di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Begitu tahu saya dari Kompas, King langsung menanyakan kabar TD Asmadi, Sumohadi Marsis, dan Valens Doy. Saya jelaskan bahwa Pak TD Asmadi sudah pensiun dari Kompas, sedangkan Pak Sumohadi Marsis merintis Tabloid Bola. Sementara Pak Valens Doy sudah almarhum. King agak kaget ketika tahu Pak Valens sudah meninggal dunia. (Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, saya membaca berita tentang King dari wartawan-wartawan senior Kompas tersebut).


Kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulutangkis Indonesia menjadi inspirasi bagi Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, untuk membuat film tentang bulutangkis. Film itu bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King.

Keberanian Nia dan Ale membuat film bertema bulutabngkis, patut dipuji. Sangat sedikit film Indonesia yang bisa membangkitkan semangat menjadi juara, apalagi juara bulutangkis. Padahal cabang olahraga ini merupakan cabang unggulan Indonesia di kancah internasional. Nia dan Ale ingin membangkitkan semangat kaum muda Indonesia agar tetap mencintai bulutangkis.


Seperti Nia dan Ale, saya pun merindukan Indonesia berjaya dalam turnamen internasional. Dan saya kira bukan hanya saya. Ada jutaan, puluhan juta bahkan 220 juta rakyat Indonesia sudah lama menunggu lahirnya Liem Swie King-Liem Swie King baru dalam olahraga bulutangkis.

Film ini didukung oleh Komunitas Bulutangkis Indonesia yang dipimpin G. Sulistiyanto, yang juga salah satu pengurus inti Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI. Sulis memang bukan pemain bulutangkis, tetapi pada masa remaja, dia punya cita-cita menjadi juara bulutangkis di tingkat Provinsi Jawa Tengah, yang waktu itu menggelar Munadi Cup.

Banyak waktu

Dalam perbincangan, Liem Swie King menuturkan kini dia punya banyak waktu berkumpul bersama keluarganya. Tiga anaknya beranjak dewasa, yaitu Alexander (25), Stephanie (22) dan Michelle (12). King memiliki bisnis perhotelan dan spa di Jakarta.
 Yang menarik, KIng mengaku anak-anaknya tidak tahu bahwa dia seorang legenda bulutangkis Indonesia. Stephanie, yang baru saja lulus dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, mengatakan dia baru tahu ayahnya seorang pahlawan bulutangkis Indonesia setelah duduk di bangku SMP. Mereka heran kok banyak orang menyapa King. Tapi akhirnya mereka paham, ayahnya, Liem Swie King betul-betul seorang legenda bulutangkis Indonesia.

King mengatakan beberapa kali berkunjung ke kota kelahirannya di Kudus, Jawa Tengah. Dia melihat lapangan bulutangkis, tempat dia kali pertama bermain, masih ada. Dia ingat ketika akan bermain, dia memasang sendiri net di lapangan. King juga ingat betapa sikap keras ayahnya, memacu dirinya untuk bisa menjadi juara. King selalu diomeli sang papa, jika kalah di lapangan.

Liem Swie King termasuk mantan pemain bulutangkis Indonesia yang beruntung karena tetap sukses usai menggantungkan raketnya. Namun dia prihatin masih ada beberapa mantan pemain bulutangkis Indonesia seperti Taty Sumirah yang setelah berhenti bermain, bekerja di sebuah apotek dan naik vespa tua. Komunitas Bulutangkis Indonesia yang dipimpin G Sulistiyanto, membantu orang-orang seperti Taty Sumirah -yang pernah mengharumkan nama Indonesia, agar dapat hidup layak.

King memang menikmati hidupnya. Dia sudah jarang bermain bulutangkis, tetapi kini dia lebih suka bermain tenis. Bahkan rutin seminggu dua kali. King prihatin dengan kondisi dunia bulutangkis Indonesia saat ini. Pada zamannya, dia berlatih dengan fasilitas apa adanya dan bertanding dengan hadiah belum seberapa, tetapi dia punya semangat dan disiplin yang tinggi.

Untunglah ada orang-orang seperti Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale, G. Sulistiyanto yang menyadari betapa pentingnya memotivasi kaum muda Indonesia, yang ada di pelosok-pelosok desa, kampung, kota, agar mau berlatih dengan disiplin dan semangat tinggi, dan punya motivasi tinggi menjadi juara di kancah internasional. Sudah waktunya Indonesia memiliki “Liem Swie King-Liem Swie King” baru….

Dari berbagai sumber
Photo: Google