Senin, 24 Desember 2012

Alan Budikusuma





Alan Budikusuma Wiratama alias Goei Ren Fang (Dalam aksara Tionghoa: 魏仁芳), (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 Maret 1968; umur 44 tahun) adalah mantan pemain bulu tangkis Indonesia yang meraih medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Barcelona 1992 dalam nomor tunggal putra. Ia pensiun dari dunia bulu tangkis setelah Olimpiade Atlanta 1996.

Alan menikah dengan Susi Susanti, yang juga memenangkan medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Barcelona.



Alan Budi Kusuma adalah atlet yang bisa belajar dari kekalahan. Contohnya tahun 1991 Alan Budi Kusuma kalah dari Ardy B. Wiranata di All England tapi di tahun 1992 Alan Budi kusuma mengalahkan Ardy B. Wiranata di Olimpiade Barcelona. Contoh lain di tahun 1996 Alan Kalah dari poul Eric H.L di Olimpiade Atlanta tapi di tahun yang sama Alan Budi kusuma mengalahkan Poul erik di Indonesia terbuka.

Prestasi

  • Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
  • Juara Malaysia Open 1995
  • Juara Indonesia Open 1993
  • Juara Invitasi Piala Dunia 1993
  • Juara German Open 1992
  • Juara China Open 1991
  • Juara Thailand Open 1989 dan 1991
  • Juara Dutch Open 1989
  • Juara Brebes Open 2012
  • Juara Turgo Open 2020

Penghargaan








KBRN, Jakarta : Bercermin dari lolosnya ganda campuran Indonesia, Irfan Fadhilah/Weni Anggraini kefinal Turnamen Bulutangkis Malaysia Terbuka GP Gold 2012

KBRN, Jakarta : Bercermin dari lolosnya ganda campuran Indonesia, Irfan Fadhilah/Weni Anggraini kefinal Turnamen Bulutangkis Malaysia Terbuka GP Gold 2012 menjadi salah satu prestasi bagi pembinaan Bulutangkis yang dilakukan PB PBSI.

Mantan pebulutangkis Indonesia, Alan Budikusuma Senin (7/5) hari ini kepada RRI mengatakan walaupun ganda Irfan/Weni kalah dari pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, disisi lain pasangan Indonesia tersebut menjadi kekuatan baru.

“Kabar baik yaa mas bagi pemain kita (ganda campuran Indonesia, Irfan Fadhilah/Weni Anggraini-red) kalau tidak salah peringkat 38 dunia pemain ini dan walaupun kalah difinal (Turnamen Bulutangkis Malaysia Terbuka GP Gold 2012-red) dari pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, tetapi harapan kita mudah mudahan ada yang bisa menemani pasangan andalan Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir. Dan PB PBSI diharapkan diharapkan lebih berani dalam menurunkan para pemain muda di Turnamen Bulutangkis sekelas Grand Prix Gold ataupun Super Series,” ujar Alan Budikusuma, Senin (7/5).




Peraih medali emas Barcelona tersebut menambahkan Indonesia memiliki potensi pembinaan bulutangkis yang lebih baik, jika PB PBSI sering memberikan kesempatan kepada atlit muda turun di setiap ivent internasional.

Alan juga menghimbau agar para atlit muda berani mengambil kesempatan yang diberikan oleh PB PBSI tampil diturnamen Grand Prix Gold ataupun Super Series. Sementara itu, PB PBSI melalui sekretaris jendral Yakob Rusdianto menyatakan  bahwa tim Thomas-uber Indonesia masih menyiapkan diri ditengah persiapan menuju Wuhan,China 20 hingga 27 mei 2012.

Dipastikan tanggal 15 Mei Taufik Hidayat dan kawan kawan akan bertolak ke China dalam rangka adaptasi dinegeri tersebut dan bertekad meraih prestasi tertinggi di Kejuaraan Thomas-Uber tahun ini. (Danang/WDA)

  

6 Penyumbang Emas Olimpiade Untuk Indonesia

Tak lama setelah Susi Susanti mempersembahkan emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade, pemain tunggal putra Alan Budikusuma juga mencetak prestasi gemilang yang sama. Melawan rekan senegaranya di final, Ardi B. Wiranata, Alan menang 15-12 18-13.
Dengan sumbangan emas mereka di hari yang sama di Barcelona 1992, Alan dan Susi pun menjadi "pengantin Olimpide" karena saat itu status mereka adalah kekasih. Pasangan legendaris ini menikah di tahun 1997.

Di Olimpiade 1992, selain emas dari Alan dan Susi, bulutangkis juga menyumbangkan dua perak atas nama tunggal putra Ardi Wiranata dan ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan, serta satu perunggu untuk Hermawan Susanto.




Aksi Sosial Bulutangkis Peduli Merapi
pbdjarum.org - Para Legenda bulutangkis Indonesia akan berkumpul di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah pada acara “Bulutangkis Peduli Merapi” hari ini (19/12/2010). Sebuah acara penggalangan dana untuk membantu meringankan beban korban Gunung Merapi. Mereka akan bertanding dan mengumpulkan dana melalui lelang raket yang sudah dilakukan seminggu sebelumnya melalui Solopos dan juga berkeliling ke tribun penonton untuk mengumpulkan sumbangan secara spontan.

Pertandingan para legenda akan dimulai dengan menampilkan Juara Dunia ganda campuran tahun 2005 dan 2007, Nova Widianto/Lilyana Natsir yang akan ditantang salah satu pasangan andalan Pelatnas saat ini, Mohammad Rijal/Debby Susanto. Kemudian publik Solo akan disuguhkan permainan pasangan ganda putri nomor satu Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Polii yang akan berhadapan dengan Pia Zebadiah/Nitya Krishinda.

Sebuah partai yang sangat layak ditunggu yaitu penampilan kembali ratu bulutangkis putri Indonesia terbaik sepanjang masa, Susy Susanti. Pemain ini semasa aktifnya berprestasi hampir sempurna ini dengan meraih gelar-gelar juara bergengsi diantaranya medali emas Olimpiade 1992, juara dunia 1993 dan empat kali juara All England. Lawan yang bakal dihadapi Susi adalah pemain putri Indonesia yang berperingkat terbaik di rangking BWF, Maria Febe Kusumastuti.




Susy Susanti akan tampil kembali bersama sang suami Alan Budi Kusuma di partai ganda campuran. Pasangan emas Olimpiade Barcelona tahun 1992 ini dijadwalkan bertanding dengan peraih medali emas Asian Games 1982 Christian Hadinata/Ivana Lie. Kemudian dilanjutkan penampilan Sigit Budiarto/Fran Kurniawan yang bertemu dengan Rendra Wijaya/Rian Sukmawan. Pertandingan akan ditutup dengan pertemuan dua tunggal terbaik Indonesia saat ini Taufik Hidayat dan Simon Santoso.
Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) bekerja sama dengan Djarum Foundation. Semua hasil dari acara ini akan disumbangkan untuk korban Merapi, melalui PMI Jawa Tengah dan DIY.

Menurut Wakil Ketua KBI, Hadibowo, kegiatan sosial untuk korban bencana alam ini, di mana para pemain legendaris dan pemain masih aktif terjun langsung ke lapangan, merupakan yang pertama kali dilakukan oleh KBI. Beberapa waktu lalu, setelah gempa di Yogyakarta, KBI juga memberikan bantuan, namun mereka hanya mengutus perwakilan, tanpa turun langsung ke lapangan mengadakan sebuah acara khusus seperti pertandingan dan lelang raket.

Untuk lelang raket, telah diumumkan melalui media cetak minggu ini. Lelang ini akan melibatkan masyarakat untuk membeli dengan harga paling tinggi. Susy merupakan salah satu atlet yang bersedia melepas salah satu "senjatanya".



 
 "Saya sebagai warga Indonesia tentu tergerak hatinya untuk meringankan derita korban. Saya akan membantu saudara-saudara lewat bulutangkis juga karena hidup saya dari bulutangkis. Semoga acara ini dapat bermanfaat dan membantu mereka yang terkena musibah," kata Susy. Demi acara tersebut, Susy rela meninggalkan acara keluarganya di Bali. "Demi acara sosial seperti ini, saya tinggalkan anak-anak selama satu hari di Bali. Saya akan kembali lagi setelah acara selesai," katanya.
Kehadiran Susy tampaknya masih menjadi magnet tersendiri, karena memiliki beberapa gelar juara yaitu juara dunia All England dan Olimpiade. "Saya katakan pada Susy jika masyarakat menunggu aksinya. Semoga Susy dan para pemain lainnya membawa berkah dan menghasilkan dana melimpah," kata Hadibowo, yang saat masih aktif bermain sering berpasangan dengan Christian Hadinata ini.

Menurut Hadibowo, salah satu mantan pahlawan Indonesia di Piala Thomas ini, selain melihat aksi para jagoan bermain di lapangan dan melelang raket, penonton juga akan disuguhi aksi yang tidak kalah menarik. “Para atlet akan berkeliling ke tengah-tengah penonton untuk mengumpulkan sumbangan. Agar mereka juga dekat dengan penonton," kata Hadibowo.

Taufik Hidayat, juara dunia 2005 ini, menyambut positif kegiatan ini, terutama karena acara ini diprakasai oleh KBI. "Ini keinginan murni pecinta bulutangkis untuk membantu sesama. Mereka telah bekerja keras agar acara ini dapat tercapai. Hal ini merupakan hal yang patut diacungi jempol,” katanya.

“Semoga hasil dari kegiatan amal ini dapat meringankan dan bermanfaat bagi korban. Namun, apa yang dilakukan setelah bencana alam itu lah yang paling krusial, bagaimana kembali bangkit untuk hidup," tambah peraih medali emas Olimpiade 2004 ini.

Menurut Renitasari dari Djarum Foundation, derita korban tidak hanya dirasakan oleh warga kaki Gunung Merapi saja, melainkan seluruh masyarakat Indonesia. "Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kami merasa ikut bertanggung jawab untuk membantu proses pemulihan bencana ini,” kata Renita.




Pebulutangkis, lahir di Surabaya, 29 Maret 1968. Memiliki nama asli Goei Ren Fang, dari sebuah keluarga pebulutangkis, Goei Hauw Tjing dan The Lie Giok. Mulai mengayunkan raket sejak usia 6 tahun, tapi baru berlatih secara intensif di usia 11 tahun dengan bergabung di klub Rajawali, Surabaya. Mantan pemain nasional, Nyoo Kiem Bie turut mengasah bakat alam Alan, yang memiliki tinggi 177 cm dan berat 68 kg, postur yang sangat ideal untuk seorang pemain bulutangkis. Menginjak remaja hijrah ke Jakarta, bergabung dengan klub Prasetya Mulya, sebelum masuk ke SMA khusus olahraga di Ragunan. Pada tahun 1986, mulai masuk pelatnas utama.

Sebenarnya permainan Alan, baik di tingkat nasional maupun internasional, mirip gelombang laut, prestasinya naik turun. Ketika tampil sebagai pemain kunci tim Piala Thomas 1992 melawan Malaysia, ia mengalami kegagalan. Namun dua bulan kemudian di Olimpiade Barcelona 1992 mengukir sejarah emas dengan menundukkan rekan senegaranya, Ardy B. Wiranata, straihgt set langsung, 15-12, 18-13. Emas yang diraihnya, merupakan emas kedua Indonesia, menyusul sukses Susi Susanti, kekasih yang kemudian menjadi istrinya. Dua medali emas pertama buat Indonesia sepanjang sejarah Olimpiade, yang sering juga dikenang sebagai "pasangan emas".

Dalam kejuaraan lain, Alan pernah tampil sebagi juara Jerman Terbuka (1992), Indonesia Terbuka (1992), Piala Dunia 1993 dan turut menjadi anggota Piala Thomas 1988, 1992, 1994. Pada Piala Thomas 1994 yang berlangsung di Jakarta, sebagai asisten pelatih ia turut mengembalikan supremasi Indonesia, yang hampir selama 10 tahun direbut secara bergantian oleh dua musuh bebuyutannya, yaitu RRC dan Malaysia.








Astec, Raket Bulu Tangkis Produksi Indonesia


Alan Susi Technology (Astec) merupakan raket bulu tangkis yang diproduksi oleh Susi Susanti dan Alan Budikusuma, pasangan suami istri sekaligus peraih medali emas bulu tangkis di Olimpiade Barcelona 1992. Di bawah bendera PT Astindo Jaya Sport, mereka meluncurkan raket Astec yang pembuatannya telah melalui riset untuk mengetahui selera publik. 

Hasilnya adalah produk yang didesain sekomprehensif mungkin. Ada kategori offensif (penyerang) dan defensif (bertahan) yang masih punya kategori turunan: tunggal dan ganda, all around, beginner dan profesional. Ketika pertama kali keluar di pasaran, reaksi pasar tidak sebaik yang diharapkan. Dengan harga 200 ribu - 2 juta rupiah, harga yang cukup mahal untuk sebuah raket, membuat para pemilik toko enggan menjual raket-raket tersebut. 

Di sinilah masalah terbesarnya. Pada umumnya, masyarakat awam menganggap semua raket adalah sama, yang penting bisa untuk menepuk kok atau bulu angsa. Padahal, meskipun penampilannya mirip, jika bahan yang dipakai berbeda, dapat menghasilkan output yang berbeda pula. Menyadari bahwa hal itu dapat menjadi rintangan bagi mereka, pasangan Susi dan Alan berbenah. Mereka terus meyakinkan bahwa Astec memiliki nilai keunggulan tersendiri seperti raket Wave Series atau seri bergelombang yang membuat pukulan lebih cepat, dan kepada para pemilik toko olahraga, mereka menjamin Astec sebagai produk lokal tidak cepat rusak dan kuat. 

Astec sebagai raket produksi Indonesia mulai merambah ke berbagai level. Dari mensponsori pertandingan bulu tangkis tingkat RT/RW, hingga tingkat nasional. Susi dan Alan juga mendekati klub-klub bulu tangkis untuk bermitra, meskipun kebanyakan dari klub tersebut telah disponsori oleh raket dengan merk lain. Meskipun begitu, pasangan tersebut pantang mundur, mereka mendekati klub-klub tersebut lewat jalur pertemanan. 

Semua opini dan pendapat klub yang telah memakai produk mereka dicatat untuk kemudian diberikan ke pabrik demi hasil yang lebih baik lagi. Aktif menggelar promosi dan memperkenalkan Astec ke berbagai level membuat Astec makin bersinar. Jalur distribusi pun meluas karena makin banyak toko yang menerima Astec seiring dengan meningkatnya kepercayaan publik atas kualitas Astec sebagi raket buatan anak bangsa. 




Mereka Mengharumkan Merah Putih
Pasangan pemain bulutangkis Alan Budikusuma dan Susi Susanti, di tempat latihan, Jakarta, 1997

Tradisi emas bulu tangkis terhenti di Olimpiade London 2012. Indonesia yang selalu mendapat emas dari bulu tangkis sejak olimpiade Barcelona 1992 gagal di London. Bahkan tak satu pun medali yang dihasilkan dari bulu tangkis.

Tentu sebagian dari kita masih ingat momen ketika legenda Bulu Tangkis Indonesia Susi Susanti mengukir sejarah. Susi Susanti meraih emas Olimpiade pertama untuk Indonesia di Barcelona 1992.
Momen itu sungguh tak terlupakan karena Alan Budikusuma, kekasih Susi Susanti juga meraih emas untuk tunggal putra di Olimpiade Barcelona. Bendera merah putih berkibar. Lagu kebangsaan Indonesia berkumandang.

Susi dan Alan kemudian disebut pasangan emas. Keduanya diarak di jalan protokol Jakarta. Mereka pahlawan yang mengharumkan merah putih.
 

Susi Susanti dan Alan Tetap Pilih Batik

Selasa, 6 September 2011, Alan Budikusumah dan Susi Susanti berkunjung ke butik Alleira Batik di Central Park. Keduanya datang untuk berbelanja koleksi Alleira.

Berbicara tentang budaya Indonesia, rupanya kedua mantan atlet bulutangkis ini sangat menyukai batik. Kepada Alleira, Susi juga menyampaikan kekagumannya dengan desain Alleira yang modern dan elegan.

Di tengah arus mode yang semakin berkembang, Alan-Susi tetap memilih batik.Menurutnya, batik juga bisa menjadi pakaian yang modern dan mewah untuk digunakan di setiap kesempatan, seperti halnya dengan Alleira.




Para Mantan Atlet Bulutangkis Ajukan Petisi
VIVAnews - Kegagalan tim Thomas dan tim Uber bulutangkis Indonesia di China beberapa waktu lalu membuat luka tersendiri bagi para mantan atlet bulutangkis Indonesia. Karena itu, tergabung dalam Mantan Atlet Bulutangkis Nasional Lintas Generasi mereka menyampaikan sebuah petisi kepada PB PBSI, Senin 28 Mei 2012.

Liem Swie King, Rudy Hartono, dan Taufik Hidayat memimpin rekan-rekannya untuk menyatakan kekecewaan atas prestasi Indonesia yang tak kunjung membaik. Hal yang mereka soroti diantaranya mengenai kekompakan pemain, pemilihan pemain, pemilihan pelatih asing, sampai penyalahgunaan wewenang di PBSI.

Rudy Hartono mengatakan bahwa pertemuan ini bukan sebuah gerakan untuk mengambil alih Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), tetapi sebagai sebuah pengingat dan dorongan 




agar PBSI mau memperbaiki diri. Apalagi kegagalan bulutangkis Indonesia di kompertisi bergengsi bukan hanya satu kali ini saja.

"Saya tidak mau jadi ketua PBSI, saya hanya berharap dengan berkumpulnya kami, pemerintah dan pengurus PBSI akan sadar. Kita ingin bulutangkis Indonesia kembali berjaya," jelasnya.

Hal ini ditegaskan Alan Budikusuma yang datang bersama istrinya, Susi Susanti. "Kami tidak memiliki kepentingan apapun, tapi gerakan kami ini murni untuk kepentingan bulutangkis Indonesia," ujarnya.

Mantan atlet bulutangkis putri Indonesia, Ivana, menjelaskan ada hal yang kurang tepat terjadi di tubuh PBSI sekarang. Selain mengenai penunjukan pelatih asing, Ivana menyoroti tentang koordinasi antar bidang di dalam PBSI yang berjalan tidak semestinya.

7 Isi Petisi Mantan Atlet Bulutangkis Nasional Lintas Generasi:
1. Menuntut PB PBSI bertanggung jawab dan melakukan evaluasi.
2. Memperbaiki tumpang tindih (overlapping) kewenangan di tubuh PB PBSI
3. Fokus mempersiapkan atlet untuk Olimpiade London dengan sebaik-baiknya
4. Meninjau ulang keberadaan pelatih asing di Pelatnas
5. Menghimbau PBSI Provinsi untuk segera menyiapkan figur ketua umum PB PBSI yang kreatif
6. Menghimbau Dewan Pengawas lebih aktif mengkritisi PBSI pusat dan PBSI daerah
7. Menghimbau Bapak Presiden, Pemerintah, dan Komisi X DPR untuk lebih memperhatikan bulutangkis







Astec support team appreal matthew jaya

Rabu , 26 september 2012 pkl 10.00 di gading kirana PT.ASTINDO JAYA SPORT / ASTEC (Alan dan susy technology) resmi mensupport team appreal dari MATTHEW JAYA BADMINTON SCHOOL INDONESIA.

Kerjasama dalam memberikan appreal team MATTHEW JAYA ini akan berlangsung selama 1 tahun kedepan yakni 1 oktober 2012 hingga 30 november 2012.

Ketua Matthew jaya mengungkapkan "semoga dengan adanya dukungan ini , matthew jaya terus mengukir prestasi baik di kejuaraan antar sekolah , club , jakarta barat , dki , nasional maupun internasional dan saya sangat emngucapkan banyak terima kasih untuk bp.alan budikisuma , ibu . susy susanti atas dukungan yang diberikan kepada kami dan semoga kerjasama ini akan terus hingga tahun tahun mendatang"

Pada kejuaraan oktober mendatang MATTHEW JAYA menjadi MATTHEW JAYA ASTEC dan oktober nanti matthew akan mengunakan perlatan dari ASTEC baik dari t-shirt , short , sepatu ,raket , tas dan segalanya serba ASTEC.

Kejuaraan yang akan di ikuti oleh team MATTHEW JAYA ASTEC di oktober adlah kejuaraan piala walikota jakarta barat , lalu disusul dengan BNI ASTEC open dan terakhir di bulan oktober cometa student cup.


 



Alan Budikusuma: sistem pertandingan bulutangkis perlu diubah

Mantan pebulu tangkis nasional Alan Budikusuma mengatakan, sistem pertandingan pada cabang bulu tangkis di Olimpiade London yang menyebabkan pemain sengaja untuk tidak memenangkan pertandingan.
Alan Budikusuma, yang pernah meraih emas bulu tangkis di Olimpiade 1992 di Barcelona, mengatakan, para pemain tidak bisa disalahkan dalam kasus ini.

"Saya tidak menyalahkan pemain dan tidak menyalahkan coach (pelatih). Yang kita salahkan adalah sistem yang memberi peluang atau celah kepada atlet untuk melakukan sesuatu...," kata Alan dalam wawancara dengan BBC, Kamis (02/08) di Jakarta. 

Menurutnya, setiap atlet olah raga akan berusaha untuk mendapatkan medali.
"Dari sistem (sistem pertandingan bulutangkis di Olimpiade London) itu, ada peluang untuk peluang yang membuat mereka lebih baik mengalah, menghemat tenaga, (dan) lebih memilih pemain Korea ketimbang Cina," papar Alan.

Alan mengaku telah memperoleh informasi bahwa 'taktik mengalah' dilakukan tim bulu tangkis Indonesia, karena sistem yang membolehkan. "Tidak ada larangan untuk mengalah," katanya.
"Saya tidak menyalahkan pemain dan tidak menyalahkan coach (pelatih). Yang kita salahkan adalah sistem yang memberi peluang atau celah kepada atlet untuk melakukan sesuatu..."

Alan Budikusuma, mantan pebulu tangkis
"(Jadi), sistemnya yang menjadi masalah," tambahnya. ASebelumnya, Ketua kontingen Indonesia, Erick Thohir, telah mengusulkan perubahan sistem pertandingan di cabang bulu tangkis.
Erick mengatakan Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Federasi Dunia Bulutangkis (BWF) perlu melakukan kajian atas kasus ini dan mengubah sistem.



"IOC dan BWF bisa belajar dari sistem yang dipakai di Piala Thomas dan Uber, yang tidak memungkinkan pemain sengaja untuk kalah," kata Erick seperti dikutip kantor berita Reuters.



Dari berbagai sumber
Photo: Google


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar