Rabu, 05 Desember 2012

Rudi Hartono


Rudy Hartono, Sang Juara Bulutangkis Sejati Kebanggaan Indonesia


Nama              : Rudy Hartono Kurniawan
Lahir               : Surabaya, 18 Agustus 1949
Menikah         : 28 Agustus 1976
Istri                 : Jane Anwar
Anak               : Christoper dan Christine



 Prestasi           :
  • Juara tunggal putra All England 8 kali (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, dan 1976)
  • Runner-Up All England 2 kali (1975, 1978)
  • Juara bersama Tim Indonesia dalam Thomas Cup 4 kali (1970, 1973, 1976 dan 1979)
  • Juara Dunia World Championship, 1980
  • Juara Denmark Open 3 kali (1971, 1972, 1974)
  • Juara Canadian Open 2 kali (1969, 1971)
  • Juara US Open, 1969
  • Juara Japan Open, 1981
  • Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI (1981-1985)

Penghargaan   :
  • Asian Heroes, TIME Magazine, 2006
  • Olahragawan terbaik SIWO/PWI (1969 dan 1974)
  • IBF Distinguished Service Award 1985
  • IBF Herbert Scheele Trophy 1986 – penerima pertama
  • Honorary Diploma 1987 dari the International Committee’s “Fair Play” Award
  • Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama
* * * * * *




Pria kelahiran 1949 ini pernah diabadikan namanya dalam Guiness Book of World Records pada tahun 1982 karena berhasil membawa Indonesia meraih juara All England delapan kali dan memenangkan Thomas Cup sebanyak empat kali. Rudy Hartono yang juga pernah dinobatkan sebagai salah satu “Asian Heroes” kategori “Athletes & Explorers” versi Majalah Time ini lahir dengan nama Nio Hap Liang. Rudy merupakan anak ketiga dari keluarga Zulkarnaen Kurniawan. Dua kakak Rudy, Freddy Harsono dan Diana Veronica juga pemain olahraga bulutangkis kendati baru pada tingkat daerah.

 
Masa Kecil

Rudy kecil sangat tertarik mengikuti beragam olahraga di sekolah, terutama atletik. Saat masih SD, ia suka berenang. Di SMP, ia suka bermain bola voli dan SMA, ia menjadi pemain sepakbola yang baik. Meski demikian, bulutangkis menjadi minatnya yang paling besar. 


Saat usia 9 tahun, Rudy sudah menunjukkan bakatnya pada olahraga ini. Namun ayahnya, Zulkarnaen Kurniawan, baru menyadari bakatnya ini saat Rudy berusia 11 tahun. Setelah ayahnya menyadari bakat anaknya, maka Rudy kecil mulai dilatih secara sistematik pada Asosiasi Bulu Tangkis Oke dengan pola latihan yang telah ditentukan oleh ayahnya. Sekedar informasi, ayah Rudy juga pernah menjadi pemain bulu tangkis di masa mudanya. Zulkarnain pernah bermain di kompetisi kelas utama di Surabaya. Zulkarnain pertama kalinya bermain untuk Asosiasi Bulu Tangkis Oke yang dia dirikan sendiri pada tahun 1951. 





Di asosiasi ini ayah Rudy juga melatih para pemain muda. Program kepelatihannya ditekankan pada empat hal utama yaitu: kecepatan, pengaturan nafas yang baik, konsistensi permainan dan sifat agresif dalam menjemput target. Tidak mengherankan banyak program kepelatihannya lebih menekankan pada sisi atletik, seperti lari jarak panjang dan pendek dan juga latihan melompat (high jump).


Saat di Oke, Rudy untuk pertama kali memulai program latihannya yang disusun sedemikan rupa. Sebelumnya Rudy lebih banyak berlatih dengan turun ke jalan. Ia berlatih di jalan-jalan beraspal yang seringkali masih kasar dan penuh kerikil, di depan kantor PLN di Surabaya, yang sebelumnya bernama Jalan Gemblongan.


Awal Karier Profesional

Setelah beberapa lama bergabung dengan grup ayahnya, akhirnya Rudy memutuskan untuk pindah ke grup bulutangkis yang lebih besar yaitu Rajawali Group yang telah banyak menghasilkan pemain bulutangkis dunia. Pada awal bergabung dengan grup ini, Rudy merasa sudah menemukan tempat terbaik dalam mengembangkan kemampuannya dalam bulutangkis. Namun, setelah mendapat masukan dari ayahnya, ia mengakui bahwa jika ingin kemampuan dan kariernya di bulutangkis meningkat maka ia harus pindah ke tempat latihan yang lebih baik. Oleh karena itu, Rudy lantas bergabung dengan Pusat Pelatihan Nasional untuk Thomas Cup di akhir 1965.


Setelah bergabung dengan Pusat Pelatihan Nasional untuk Thomas Cup, kemampuannya meningkat pesat. Ia menjadi bagian dari tim Thomas Cup yang menang pada 1967. Setahun kemudian, di usia 18 tahun ia meraih juara yang pertama di Kejuaraan All England mengalahkan pemain Malaysia Tan Aik Huang dengan skor 15-12 dan 15-9. Ia kemudian menjadi juara di tahun-tahun berikutnya hingga 1974.




Namun, nampaknya kedigdayaannya tidak berlangsung lama. Pada 1975, ia kalah dari Svend Pri. Tetapi, gelar juara All England ia rebut kembali pada 1976. Bersama tim Indonesia, Rudy menjuarai Thomas Cup pada 1970, 1973 dan 1976. Setelah absen selama dua tahun, Rudy tampil kembali pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis II di Jakarta, 1980. Semula dimaksudkan sebagai pendamping, ternyata secara mengagumkan Rudy keluar sebagai juara. Berhadapan dengan Liem Swie King di final, pada usia 31 tahun Rudy membuktikan dirinya sebagai maestro yang tangguh.


Stuart Wyatt, presiden dari Asosiasi Bulutangkis Belanda berkata, “Tidak diragukan lagi, Rudy Hartono adalah pemain tunggal terbesar di jamannya. Ia handal dalam segala aspek permainan, kemampuannya, taktiknya, dan semangatnya.” Juara tujuh kali berturut-turut dan yang ke delapan (1968-1976) menjadi bukti akan hal itu.


Rekornya ini merupakah hasil dari kemampuannya yang luar biasa di bidang kecepatan dan kekuatan dalam bermain. Gerakannya nyaris menguasai seluruh area lantai permainan. Ia tahu kapan harus bermain reli atau bermain cepat. Sekali ia melancarkan serangan, lawannya nyaris tidak berkutik. Namanya sudah menjadi jaminan untuk menjadi pemenang, sebab ia hampir tidak pernah kalah. Meski ia sudah mengundurkan diri, banyak orang masih percaya bahwa ia masih bisa menjadi pemenang. Mungkin inilah alasan mengapa orang menjulukinya ‘Wonderboy’.


Doa adalah Kunci Suksesnya

Banyak orang ingin tahu kunci keberhasilannya. Rudi menjawab, “Berdoa” Dengan berdoa, Rudy memperkuat pikiran dan iman. Berdoa tidak hanya sebelum bertanding, tetapi juga selama bertanding. Itu melibatkan kata-kata atau ekspresi yang akan membangkitkan percaya diri dalam hati dan pikiran.


Untuk setiap poin yang ia peroleh selama bertanding, ia ucapkan terima kasih kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan untuk poin ini.” Dia terus berkata seperti itu hingga skor terakhir dan pertandingan berakhir. Ia mengatakan kebiasaannya ini dalam biografinya yang diedit oleh Alois A. Nugroho. Ia percaya bahwa manusia berusaha namun Tuhan yang memutuskan.


“Saya melakukan itu dalam semua pertandingan besar khususnya All England. Bagi saya ini adalah kenyataan. Kita berusaha tetapi Tuhan yang memutuskan. Saya juga percaya bahwa kalau kita kalah memang sudah ditentukan demikian, dan kalau kita menang, itu juga adalah kehendak Tuhan. Kalah adalah hal yang alami, karena sebagai manusia kita semua pernah mengalami kekalahan. Pemahaman ini akan melepaskan stress selama bertanding, mengurangi ketakutan, dan kegusaran, “ kata Rudy menjelaskan.



  
Kehidupan Pasca Gantung Raket

Rudy tetap terlibat dalam olahraga yang ia tekuni semenjak kecil ini, walau hanya dari pinggir lapangan. Olahragawan terbaik SIWO/PWI (1969 dan 1974) ini menjadi Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI dalam kurun waktu 1981-1985 di bawah kepengurusan Ferry Sonneville.


Sejak itu, ia memusatkan perhatian pada pembinaan pemain-pemain yang lebih muda, yang diharapkan dapat menggantikannya. Dari klub yang dipimpinnya, misalnya, lahir Eddy Kurniawan yang, kendati belum berprestasi secara stabil, mampu membunuh raksasa bulu tangkis Cina seperti Zao Jianghua atau Yang Yang. Pemain-pemain belasan tahun seperti Hargiono, Hermawan Susanto. atau Alan Budi Kusuma, juga banyak menerima sentuhan Rudy, untuk bisa tampil dalam kancah pertarungan dunia kelak.


Selain itu, dengan materi yang dimilikinya, ditunjang oleh hubungan yang luas dengan banyak pengusaha, dan hasil kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta, Rudy mengembangkan bisnis. Peternakan sapi perah di daerah Sukabumi adalah awal mulanya ia bergerak dalam bisnis susu. la juga bergerak dalam bisnis alat olahraga dengan mengageni merk Mikasa, Ascot, juga Yonex. Kemudian melalui Havilah Citra Footwear yang didirikan pada 1996, ia mengimpor berbagai macam pakaian olahraga. Selain itu, Rudy pun pernah menjadi pengusaha oli merek Top 1 dan menjadi pemain dalam film “Matinya Seorang Bidadari” pada tahun 1971 bersama Poppy Dharsono.




Berkat nama besarnya di dunia bulutangkis, United Nations Development Programme (UNDP) menunjuk Rudy sebagai duta bangsa untuk Indonesia. UNDP adalah organisasi PBB yang berperang melawan kemiskinan dan berjuang meningkatkan standar hidup, dan mendukung para perempuan. Di mata UNDP, Rudy menjadi sosok terbaik sebagai duta kemanusiaan. Kiprahnya di dunia olahraga dan kerja kerasnya menjadi juara dunia menjadi teladan bagi generasi yang lebih muda. “Ia menjadi teladan,” kata Ravi Rajan, Resident Representative of UNDP in Indonesia (Gatra 8 November 1997).


Kini, Rudy tidak lagi mengayunkan raketnya di udara. Faktor usia dan kesehatan membuat ia tidak bisa melakukannya. Sebab sejak ia menjalani operasi jantung di Australia pada 1988, ia hanya bisa berolahraga dengan berjalan kaki di seputar kediamannya. Walaupun demikian, dedikasinya pada bulutangkis tidak pernah mati.


Rudy Hartono: Sulit Bagi Taufik dan Simon Menang di 16 Besar


TRIBUNNEWS.COM 
Legenda bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono, memberikan prediksinya terhadap laga 16 besar bulutangkis Olimpiade London 2012, yang mempertemukan Simon Santoso melawan Lee Chong Wei (Malaysia), serta Taufik Hidayat melawan Lin Dan (China).


Simon Santoso lolos ke babak 16 besar, dengan menjadi juara klasemen Grup B, usai mengalahkan Raul Must (Estonia), 21-12,21-8, dan Michael Lahnsteiner (Austria), 21-11,21-7. Sementara Lee Chong Wei menjadi juara Grup A setelah mengalahkan Ville Lang (Finlandia), 21-8,14-21,21-11.


Sedangkan Taufik Hidayat melangkah ke babak selanjutnya dengan menempati peringkat pertama Grup O mengalahkan Petr Koukal (Republik Ceko) 21-8,21-8 dan Pablo Abian (Spanyol), 22-20,21-11. Kemudian Lin Dan menempati urutan pertama Grup P setelah mengalahkan Scott Evans (Republik Irlandia) 21-8,21-14.





Menurut Rudy Hartono, untuk memprediksi pertandingan di dua pertandingan itu, terlebih dahulu harus melihat catatan pertemuan masing-masing pemain. “Sebelum memprediksi pertandingan harus melihat track record pertemuan di pertandingan itu. Pebulutangkis mana yang paling banyak meraih kemenangan, dengan melihat track record pertemuan, kita dapat memprediksi pertandingan selanjutnya, karena pertandingan yang akan datang, kurang lebih akan sama dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya,”ujar Rudy Hartono saat dihubungi via telepon, Rabu (1/8/2012).


Tercatat Simon sudah delapan kali bertemu Chong Wei. Dari semua pertandingan itu, Simon haya berhasil memenangkan satu di antaranya. Kemenangan tersebut didapat Simon di Japan Open Super Series 2009 dengan skor 19-21, 21-15, 21-19. Sementara, Taufik Hidayat memiliki rekor pertemuan 3-12 saat bertemu Lin Dan. Kemenangan terakhir kali peraih medali emas Olimpiade 2004 itu terjadi pada tahun 2005.


“Jika dilihat dari pertemuan antara keduanya, persentase kemenangan untuk Taufik Hidayat dan Simon Santoso 40 persen. Itu juga kedua pemain harus tampil maksimal dan berharap lawan bermain tidak begitu baik. Selain itu, faktor yang menentukan di pertandingan ini adalah dewi fortuna,” katanya.
Rudy Hartono mengatakan, di dalam pertandingan bulutangkis, mental bertanding seorang pemain tidak akan mempengaruhi permainan pemain di lapangan.


“Sebelum bertanding di Olimpiade, semua orang sudah harus mempersiapkan baik dari permainan, fisik, dan mental. Kalau pemain memiliki permainan dan fisik yang bagus, otomatis dia juga memiliki mental yang tangguh. Jika si pemain belum siap untuk bertanding, maka akan mempengaruhi penampilan di lapangan,” tambahnya.



Rudy Hartono: Pebulutangkis yang Tentukan Nasib Sendiri


JAKARTA--MICOM: 
Mantan pebulutangkis Indonesia Rudy Hartono menegaskan pemain yang menentukan nasibnya sendiri ketika berada di lapangan. Bukan fasilitas dan pelatih yang disediakan pengurus besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI).

"Dalam dunia bulu tangkis dan olahraga, bukan fasilitas atau persiapan apapun yang menentukan, tetapi pemain sendiri yang menentukan," ujar Rudy Hartono saat berbicara dalam peringatan HUT ke-60 PB PBSI di Pelatnas Cipayung, Kamis (5/5).


Indonesia sebenarnya tidak memerlukan pelatih yang pintar. Tapi membutuhkan atlet yang bisa berpikir. "Pelatih itu tidak perlu pintar, karena di lapangan bukan pelatih yang berpikir, tapi mereka yang berpikir," ujar Rudy.


"Kalau tidak bisa mandiri, apa pun yang dilakukan hanya berdasarkan disuruh pelatih, itu salah.Tidak akan menjadi juara," tegasnya. 

 

Rudy menyatakan hal itu terkait merosotnya prestasi bulu tangkis saat ini. Hal itu dikemukakannya dalam sambutan di HUT PBSI dengan tema
Tidak kenal menyerah untuk meraih prestasi terbaik bulu tangkis Indonesia yang dihadiri jajaran pengurus PB PBSI, mantan atlet dan atlet PBSI.

Rudy membandingkan dengan pemberian fasilitas saat ini dan ketika dirinya masih mengeluti olahraga tepok bulu itu. Kala itu, fasilitas yang ada jauh tertinggal dibandingkan saat ini. "Tapi kalau memiliki komitmen ke diri sendiri, percaya diri, konsentrasi, mandiri dan tidak pernah putus asa, semua itu bisa diraih."


Rudy juga mengusulkan sistem
punishment and reward untuk para atlet. Jika mereka gagal di turnamen internasional, atlet itu tidak akan diberangkatkan lagi.

"Sekarang mereka bilang dikirim ke turnamen itu hak mereka. Tapi harus ada imbal balik yang benar, karena PBSI sudah men-
support dana dan sebagainya," ujarnya.

"Pelatnas tidak boleh ada belas kasihan,
punishment harus jelas. Kalau turun terus prestasinya, jangan dikirim. Mereka harus sadar di sini bukan main-main." (Rin/OL-9)


Piala Thomas 1973, Matinya Seorang Bintang

(Masih ingin rasanya meneruskan postingan tentang kejayaan bulutangkis Indonesia di masa lalu. Entah karena memang gatal tangan, atau karena narsis. Sekadar ingin berbagi cerita tentang kejayaan dan kegemilangan bangsa di tengah keterpurukan Indonesia saat ini).

Thomas Cup atau Piala Thomas sebagai ajang kejuaraan beregu putra antar negara, masih saja tinggi pamornya di tahun 1973 itu.. Format kejuaraan beregu per 3 tahunan ini masih belum berubah, mempertandingkan 9 partai dalam 2 malam pertandingan dan harus ada pemain tunggal yang main rangkap sebagai pemain ganda.

 

A. Bulutangkis Indonesia 1973

Indonesia tahun 1973 adalah super power di dunia bulutangkis. Bintang-bintang senior masih belum menyurut dan bintang baru bermunculan. Pembinaan yang sungguh berhasil. China meskipun sudah mulai di’cemas’kan, tapi masih berada dalam bayang kelabu. Sektor ganda putra yang bertahun-tahun menjadi titik lemah Indonesia, berbalik menjadi sektor penyumbang angka terbesar (sampai sekarang). Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Piala Thomas masih akan tetap berada di tanah air, siapapun lawannya dan dimanapun pertandingan dilangsungkan. Pasar taruhan hanya ramai pada tebak-tebakan angka. Pada angka berapakah lawan akan dihabisi, 9-0, 8-1, atau 7-2?. Bahkan tidak ada orang gila yang menebak Indonesia hanya bisa menang dengan susah payah, 5-4!

Rudy Hartono.


  

Rudy saat itu berada di puncak dunia, 6 gelarAll England sudah dibawanya pulang, berturut-turut setiap tahun sejak 1968. Setiap pemain bulutangkis yang menghadapinya akan menampilkan 2 kemungkinan, kalah sebelum bertanding atau justru mendapat semangat berlipat untuk mengalahkannya. Penampilannya yang elegan di dalam dan di luar lapangan menjadikannya selebriti. Meskipun media saat itu belum ’seganas’ media sekarang, tetap saja tidak ada kehidupan pribadi Rudy yang tidak dikorek pers.

Dalam kondisi seperti itu bisa dibayangkan hebohnya pers dan masyarakat ketika Rudy mencoba bermain film. (Film pertama dan terakhir Rudy adalah garapan sutradara Wahyu Sihombing, bersama Poppy Dharsono dan Farouk Affero,1971. Judulnya ‘Matinya seorang Bidadari‘ yang diplesetkan pers menjadi ‘Matinya seorang Bintang‘, usai kekalahan Rudy atas Svend Pri). Ajaibnya, film itu gagal di pasaran. (Bukti bahwa masyarakat lebih menyukai Rudy sebagai pemain bulutangkis, bukan sebagai aktor). 


Revolusi Ganda Putra

Indonesia sungguh beruntung memiliki seorang dengan talenta seperti Christian Hadinata. Terlahir sebagai Tjhie Beng Goat 11 Desember 1949 di Purwokerto, Christian muda, mahasiswa STO (sekarang UPI-Bandung) dipanggil masuk Pelatnas setelah memenangi Kejurnas Jogyakarta 1971 di ganda putra bersama Atik Jauhari. Di Pelatnas, oleh pelatih Drs. Sukartono dia di”jodoh”kan dengan Ade Chandra. Pasangan ini segera melibas dunia dan membuat revolusi cara bermain ganda.


Permainan mereka yang sangat cepat dan keras, pada mulanya dikritik dunia bulutangkis karena dianggap “merusak” pakem dan seni bermain ganda. Hilang sudah permainan rally-rally panjang diganti dengan serobotan cepat dan gedoran keras bertubi-tubi. Servis yang sedikit saja ‘naik’ di atas net berarti maut, karena segera langsung diserobot bahkan sebelum bola turun. Pengembalian tanggung akan menjadi bulan-bulanan pasangan ini. Bola di’tekan’ serendah mungkin dan angka memang bergeser jauh lebih cepat dari permainan tunggal. Pasangan ini menjadi ‘raja’ dunia sebelum di’turun’kan oleh pasangan senegara yang lebih tajam dan lebih cepat, TjunTjun/Johan Wahyudi.

Hebatnya, tahun 1973 itu Christian di ajang All England, menciptakan All Indonesian Final di tunggal putra (kalah oleh Rudy) dan juga di ganda putra (Christian/Ade mengalahkan pasangan baru, Tjuntjun/Johan Wahyudi).





Invitasi Nasional Bulutangkis 1972

Invitasi yang bisa dianggap sebagai Kejuaraan Nasional Bulutangkis ini diadakan di Solo, Agustus 1972. Masalah timbul karena pengurus menerapkan kebijakan bahwa hanya Rudy dan Christian/Ade yang dibebaskan dari keharusan mengikuti Invitasi untuk memastikan tempat di tim. Kebijakan ini sangat mengecewakan Mulyadi
Pahlawan tim Piala Thomas Indonesia 1964, 1967, dan 1970 ini menganggap dirinya sebagai ‘sepah yang dibuang’ PBSI. Hadir di Solo, terdaftar sebagai peserta, tapi kemudian mogok tidak ikut bertanding, pulang ke Surabaya dan mengumumkan akan gantung raket. Pengurus tergopoh-gopoh menyusul, merayu Mulyadi sambil meralat keputusannya, memastikan tempat Mulyadi di tim. Keputusan ini juga didasari atas hasil Invitasi yang tidak sesuai harapan. 
Djaliteng yang menjadi juara dinilai kemampuannya masih di bawah Mulyadi. Si seniman yang urakan yang diperhitungkan pengamat bakal jadi juara, Iie Sumirat justru tersungkur di perempat final. Invitasi ini hanya berhasil di sektor ganda putra dengan tampilnya Tjuntjun/Johan Wahyudi sebagai juara baru mengalahkan jago dan veteran PBSI Indra Gunawan/Nara Sudjana

B. Pertandingan itu

Pertandingan diikuti 23 negara (termasuk Indonesia juara bertahan), dibagi dalam 4 zona. Zona Austral-Asia 3 Negara, Asia 6 Negara, Eropa 9 Negara dan Pan Amerika 4 Negara. Juara tiap zona lolos ke babak Antarzona (Intra-zone Play Off) di Jakarta.


Indonesia sebagai juara bertahan langsung ke babak kedua Antarzona (babak semi final), menunggu juara zona Asia. Semua pertandingan dengan sistim gugur. Meskipun China belum ikut bertanding, zona Asia menjadi grup maut terutama karena kehadiran 3 raksasa bulutangkis dunia (saat itu) Malaysia, Thailand dan Jepang.


Babak Kualifikasi Zona (Intra-zone Qualification)

Seperti diramalkan, pertemuan 3 raksasa Asia itu memang menjadi pertarungan hidup mati di lapangan. Malaysia beruntung lolos dari hadangan Jepang 5-4 dalam sebuah drama pertandingan terpanjang dalam sejarah Piala Thomas. Angka penting Malaysia didapat oleh Punch Gunalan yang mengalahkan Juji Honma dalam rubberset dengan set terakhir 17-16! Beda menang dan kalah yang sangat tipis!. 

3 bulan kemudian Sang Dewi Fortuna tidak lagi bersama Malaysia ketika berhadapan dengan Thailand. Tan Aik Huang menderita kejang kaki ketika menghadapi tunggal kedua Thailand, Sangob Ratunasorn. Cedera yang tidak pulih hari berikutnya, dan Malaysia kehilangan kesempatan, kalah 3-6 oleh Thailand. (Kekalahan yang sangat disesali tidak saja oleh pendukung Malaysia, tetapi juga oleh supporter Indonesia!).
Di zona Eropa, Denmark tidak menemui kesulitan berarti ketika menggusur Jerman (Barat) 7-2 dan lolos ke Jakarta dengan mengalahkan Swedia 8-1.


Sumpah Svend Pri

Setelah sukses mengantarkan Denmark lolos ke babak Play Off, Svend Pri sebagai tunggal Utama Denmark tidak mempedulikan apapun juga kecuali Rudy, Rudy dan Rudy. Masalah Denmark yang masih harus berhadapan di semi final menunggu pemenang pertandingan India vs Kanada, tidak dipedulikannya benar. Dia bersumpah akan mengalahkan Rudy Hartono di kandangnya sendiri

 
               
                Svend Pri (Denmark)
 

Bahkan tidak peduli walaupun Denmark nantinya dibantai Indonesia. Menyadari bahwa dia selalu mengalami kesulitan kalau bertanding di daerah tropis (tahun 70 dia sakit di Malaysia yang membuat Denmark kalah 5-4 di semi final) dia dengan lugu mohon ijin berlatih bersama pemain Indonesia di Pelatnas. Ketika ditolak (pastilah!), dia berlatih sambil ber-aklimatisasi selama 3 bulan di Singapura.


Semi Final ( Babak Antarzona/Play off)

Babak pertama play off mempertemukan juara zona Pan Amerika, Kanada vs juara zona Austral-Asia, India. Bintang muda India yang pernah berlatih di Indonesia Prakash Padukone menunjukkan kelasnya. Meskipun mampu mempersembahkan 4 angka untuk negaranya tapi tidak cukup untuk menang.  Kanada 5 India 4.

Babak Kedua tidak ada yang seru. Denmark menyingkirkan Kanada 9-0 dan Indonesia menggulung Thailand 8-1. Satu-satunya kekalahan Indonesia dibuat Mulyadi yang kalah rubberset oleh bintang muda Thailand Bandid Jaiyen.


Final!

Susunan terbaik tim Indonesia saat itu menurut pengamat ahli dan amatiran (seperti saya) adalah tidak memecah 2 ganda yang sudah sangat solid itu, dan menugaskan Christian (yang finalis All England 73) atau Tjuntjun (semifinalis Invitasi 72) sebagai tunggal ketiga sekaligus bermain rangkap. Dengan demikian Rudy Hartono akan fokus di tunggal. Tapi ternyata Pelatih dan Tim Manajer punya pertimbangan lain dengan memasang Amril Nurman sebagai Tunggal Ketiga, memecah pasangan Tjuntjun/Johan Wahyudi dan membiarkan Rudy bermain rangkap.

Pertandingan diadakan di Istora GBK (waktu itu namanya “Senayan” saja) tanggal 2 dan 3 Juni 1973. Penonton yang berjubel melebihi kapasitas idealnya yang 10,000 orang menjadikan ruang tertutup itu menjadi pengap. Angin yang sama sekali tidak diperkenankan lewat ditambah polusi asap rokok penonton, tidak mengurangi gairah mendukung Indonesia. Tapi, jujur harus diakui, bahwa semangat dan hiruk pikuk penonton tidaklah sehebat kalau yang dihadapi adalah Malaysia.

Pertandingan ini adalah pertemuan ulang 2 Negara di final Piala Thomas. Pertemuan pertama di Tokyo 1964 juga dalam posisi Indonesia juara bertahan. Kala itu Indonesia menang tipis 5-4. Pebulutangkis di final 64 yang masih bermain di final 73 ini adalah Mulyadi 30 tahun dan Henning Borch 33 tahun. Dua pemain ini bertanding di final 1964 sebagai tunggal ke 3 yang dimenangi Mulyadi  15-10,15-5.


Pertandingan hari Pertama

Mulyadi yang membuka pertandingan malam pertama, seakan tidak menemui kesulitan untuk menundukkan Elo Hansen, menang di set pertama 15-6. Tapi di set ke 2 Hansen bangkit dan balik menekan membuat Mulyadi kerepotan 10-15. Set ke 3 pemain Denmark itu tidak menunjukkan gejala kehabisan napas di daerah tropis dan pengap Istora. Gegap gempita penonton juga tidak berpengaruh dan Mulyadi terus tertekan. 0-3, 1-4, 2-8 (pindah lapangan) 5-10 dan dalam upaya mengejar bola Mulyadi, Hansen terjatuh. Setelah itu, kelihatan fisiknya terkuras mungkin karena cedera dan Mulyadi menutup set itu dengan kemenangan 15-10 (1-0 Indonesia).



Ternyata yang dihadapi Rudy sebagai tunggal kedua malam itu adalah Svend Pri yang kesetanan. Bola sulit Rudy dikejarnya jatuh bangun dan jungkir balik (dalam arti sebenarnya!). Overhead smash Rudy yang mematikan tidak lagi manjur karena hampir selalu kembali. Pri merebut set pertama 12-15 dan sengaja melepas set kedua untuk memulihkan napas 15-5, sambil secara kocak meladeni ejekan penonton. (Dia seketika membatalkan servisnya ketika diteriaki, membalikkan badannya ke arah penonton dan berakting seperti dirigen yang memimpin koor. Penonton  yang tidak siap dengan tindak balasan itu, tertawa. 

Setelah itu ejekan menjadi jauh berkurang. Kapok, karena tidak manjur!). Set ketiga dia kembali habis-habisan dan angka berkejaran sangat ketat 1-1, 3-3, 5-5, 9-9, 11-11.  Rudy berkesempatan mendapat macth point lebih dulu 14-11, tapi gagal menutup set karena dikejar Pri 14-14. Perlu 9 kali pindah bola sebelum Pri melaju 14-16, Rudy sempat menambah 15-16, tapi Pri menutup set itu, betul-betul untuk kemenangannya, Rudy tumbang menyakitkan di kandang sendiri 15-17 (imbang 1-1).

Pri melompat histeris, melepas kaosnya dan berlari keliling lapangan seolah Denmark sudah menang. Penonton kecewa, terperangah, dan tidak percaya kalau Sang Rajawali sudah kalah. Meskipun demikian untuk menghargai kegigihan dan semangat pantang menyerah Pri itu, penonton menyambutnya dengan ‘standing ovation‘.   Sejujurnya pertandingan itu dikuasai Rudy yang terus menerus menekan. Tapi Rudy tidak siap menghadapi daya juang Pri yang kesetanan seperti itu. Gegap gempita penonton yang mendukung Rudy menjadi bumerang, karena malahan Pri yang makin menggila.

Tapi, hanya sampai disitu perlawanan Denmark. Semua ganda dimenangkan Indonesia straight set. Christian/AdeChandra tidak berkeringat mengalahkan Poul Petersen/Tom Bacher 15-3, 15-5 dan Tjuntjun/Rudy menang 15-7,15-6 atas Pri/Henning Borch. Malam Pertama Indonesia unggul 3-1


Pertandingan hari Kedua

Malam Kedua hanya menarik di set awal ketika Amril Nurman tidak mampu mengimbangi kecepatan Flemming Delfs 11-15, tapi setelah itu kelihatan Delfs seperti lampu kehabisan minyak dan menyerah 15-4, 15-4 (Indonesia unggul 4-1)

Mulyadi yang turun berikutnya hanya menemui Svend Pri yang sudah kehabisan motivasi dan menang mudah  15-11, 15-1. Di set ke 2 terutama kelihatan kalau Pri sudah ogah bermain dan sengaja membuang-buang bola. (Indonesia unggul 5-1 dan Piala Thomas tetap di Indonesia).

Elo Hansen tidak mampu memulihkan cederanya dan memberikan kemenangan w.o untuk Rudy (Indonesia 6-1). Dua pasangan Indonesia juga menyelesaikan tugas dengan baik. Christian/Ade vs Pri/Borch 15-2, 15-8 dan Tjuntjun/Rudy vs Petersen/Bacher 15-11,15-5. (Indonesia-Denmark 8-1).  


C. Penutup


Svend Pri merealisasikan sumpahnya dan Rudy Hartono, meskipun didukung penuh oleh penonton, harus kalah di kandang sendiri. Kekalahan ini terulang 1975 di final All England ketika Pri menggagalkan upaya Rudy merebut gelarnya yang ke 8 secara berturut-turut. Tetapi menurut Rudy kemudian, kekalahan ini jauh lebih menyakitkan dari kekalahannya di All England.


Bisa membayangkan hujatan pers dan masyarakat? Sudahlah, saya tidak tega mengingatnya kembali. Kemenangan atas Denmark yang 8-1 menjadi hilang artinya oleh kekalahan Rudy itu. Padahal Rudy masih mempersembahkan 3 angka kemenangan lain.

Saya? Esoknya saya pulang ke kota asal, naik kereta api super mewah (waktu itu), kereta kompartemen berbilik tidur kelas utama yang bernama “Biru Malam” alias Bima. Tanpa mengeluarkan uang pribadi sambil membayari tiket untuk 3 teman sekota yang bersungut dan cemberut sepanjang jalan, karena kalah taruhan.





Masa Emas Bulu Tangkis Indonesia

Pertandingan bulu Tangkis merupakan Unggulan Indonesia sejak masa-masa lalu. Beberapa nama atlet Bulu Tangkis Indonesia telah menorehkan Tinta Emas untuk Indonesia. Sebut Saja Rudi Hartono, beliau telah mengharumkan nama Indonesia ke berbagai penjuru Dunia dengan menjadi orang terbaik di Olahraga Bulu Tangkis nya pada era 1970 an.

Lahir di Surabaya 18 Agustus 1949 silam, penggemar makanan khas daerah khususnya makanan Surabaya ini mengakui, untuk menjadi juara sejati dibutuhkan perjuangan keras.
“Kemenangan tidak diraih secara kebetulan tetapi harus melalui perjuangan. Kemenangan sejati dicapai melalui prestasi,” ujar peraih gelar Olahragawan Terbaik versi SIWO (Seksi Wartawan Olahraga) PWI pada 1969 dan 1974 tersebut.

Pemilik klub Jaya Raya itu kembali menorehkan sejarah bagi Bangsa Indonesia tatkala untuk ketiga kalinya secara berturut-turut yakni pada 1970 kembali berjaya sebagai Juara All England setelah mengalahkan pemain asal Demmark, Svend Pri.

“Mental juara dunia harus menerima kekalahan. Namun, kekalahan dalam suatu pertandingan bukan akhir prestasi melainkan `cambuk` untuk terus berlatih,” ungkap mantan Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI (Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) periode 1981 hingga 1985 tersebut.
“Kegagalan harus dijadikan motivasi untuk meraih keberhasilan selanjutnya. Itulah yang tidak dimiliki pebulutangkis kita saat ini,” ujarnya.

Peraih penghargaan IBF Distinguished Service Award 1985 itu kembali mengulang sukses pada 1971 sebagai Juara Tunggal Putra All England setelah mengalahkan Muljadi, pebulutangkis Indonesia.
Untuk kelima kalinya, ayah dua anak ini kembali mempertahankan gelar Juara All England pada 1972 setelah menundukkan Svend Pri, pemain asal Demmark.

Bertemu dengan rekan senegaranya, Christian, pada Final All England 1973, Rudy Hartono yang sempat bermain film berjudul MATINYA SEORANG BIDADARI bersama aktris Poppy Dharsono pada 1971, kembali mempertahankan gelarnya.

Kedigdayaan Rudy Hartono kembali ditunjukkan setelah berhasil mempertahankan gelar Juara All England tujuh kali berturut-turut ketika menundukkan Punch Gunalan pebulutangkis Malaysia, pada partai final All England 1974.

“Kegagalan itu harus dijadikan sebagai introspeksi untuk memperbaiki kesalahan. Namun, jangan pula terlena dengan kemenangan sebab kemenangan itu juga kadang menjadi bumerang bagi kita,”katanya.
“Kepuasan seorang atlet yakni ketika dia mampu mengalahkan dirinya dan mencapai prestasi sebagai seorang juara,” Rudy Hartono yang menghantar tim Indonesia sebagai Thomas Cup pada 1970, 1973, 1976 dan 1979 tersebut.

Mengakhiri karir sebagai atlet bulutangkis, Rudy Hartono, yang saat ini tengah mengurus usaha sebagai agen peralatan olahraga yang dirintisnya sejak 1984, lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga.
“Saya masih akan terus membangkitkan bulutangkis di Indonesia agar kita dapat meraih Juara Dunia yang sudah lama hilang. Klub, yang saya rintis telah banyak melahirkan pebulutangkis dunia, salah satunya Susy Susanti,” ungkap Juara Dunia 1980 dan Juara Japan Open 1981 tersebut.


Ia menilai, prestasi bulutangkis Indonesia saat ini semakin terpuruk. Rudy Hartono berharap, Indonesia dapat bangkit untuk mengulang prestasi seperti yang pernah diraih pada dekade 1960-an hingga 1990.
“Semangat bulutangkis harus kembali dibangkitkan. Dulu, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi atlet bulutangkis, tetapi sekarang sudah sangat sulit mencari bibit juara dunia,” katanya.
“Semua pihak, termasuk pemerintah harus menggairahkan kembali euforia (semangat) bulutangkis agar kita bisa merebut kembali gelar juara dunia,” harap maestro bulutangkis tersebut. (ww/cio/2010)  Kapanlagi.com




Rudy Hartono Kritisi Prestasi Bulutangkis Indonesia

Prestasi olahraga bulu tangkis Indonesia mendapat kritik dari legenda bulu tangkis Rudy Hartono Kurniawan. Program pembinaan menjadi salah satu faktor utama sorotan jawara All England delapan kali ini.

"Bulu tangkis saat ini "memble". Saya melihat ada persoalan dalam program pembinaan para atlet," ungkap Rudy usai acara talk show "Atlet dan Mantan Atlet Berprestasi, Quo Vadis" di FX Senayan Jakarta, Senin, 20 Februari 2012.

Masalah itu, menurut Rudy, terlihat dari penampilan pada pebulutangkis Tanah Air di beberapa ajang turnamen internasional. Misalnya saat kualifikasi Piala Thomas dan Uber yang berlangsung sepekan kemarin di Makau. "Masuk final, tim Uber sudah untung, mereka berjuang seperti itu. Kalau Thomas iya masuk final. Tapi untuk menjadi juara, maaf, saya kira itu sulit. Apalagi main di "kandang macan" (Cina). Kualifikasi saja kita kalah kemarin," kata Rudy.


Menurutnya, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) harus segera melakukan pembenahan terutama dalam program pembinaan pada atlet. Salah satu cara misalnya dengan menciptakan sikap profesionalitas dan menjadikannya juara. "Kalau dia kalah sebaiknya beri sanksi jangan dikirim lagi ke turnamen. Kalau mau ikut suruh bayar sendiri. Itu akan membuat atlet mandiri. Seperti yang dilakukan Cina, kalau tidak bisa berprestasi silahkan keluar," ujarnya.

Rudy juga meragukan peluang Indonesia untuk mempertahankan tradisi emas dalam Olimpiade musim panas di London pada Juli mendatang. "Hanya kalau ada keberuntungan bisa dapat emas. Saya bukan pesimis. Pernyataan saya ini untuk memotivasi mereka." kata Rudy.

 

Inilah salah satu kritik yang harus menjadi motivasi utama bagi Tim Thomas Uber Indonesia berlaga dan tampil di tempat jawara bulutangkis yang kini terus menorehkan prestasi, Cina. Percayalah, dengan motivasi dan dukungan yang besar dari publik Indonesia, kita pasti berjaya. 
Sumber : tempo.co




Rudi Hartono Ingin Bulutangkis Indonesia Berjaya Kembali

@IRNewscom | Jakarta: LEGENDA bulutangkis nasional Rudi Hartono menegaskan bahwa keterpurukan bulutangkis Indonesia hendaknya disikapi dengan bijak dan ia percaya kelak bila semua elemen bulutangkis bersatu, maka tim bulutangkis nasional yang mendunia, bisa bangkit kembali.

Berbicara sebagai salah satu narasumber dalam forum Dialog SIWO PWI Jaya & Mantan Atlet/Atlet Lintas Generasi Prihatin Bulutangkis Indonesia' yang dilaksanakan di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Senin (28/5) sore, Rudi menyatakan berkumpulnya para ahli bulutangkis diharapkan mampu memberikan solusi atas keterpurukan belakangan ini.

"Makanya pada hari ini saya gembira sekali karena para pemain ini (dengan) spontanitas ingin supaya Indonesia kembali berjaya seperti waktu-waktu yang lalu, dan saya percaya itu bisa. Karena dengan bersatunya keinginan yang baik dan luhur tentu bisa lebih membangkitkan perbulutangkisan di Indonesia itu, pasti akan terjadi," ujar Rudi.


Lantas ia bergurau mengenai larisnya ia sebagai narasumber bulutangkis bila tim Indonesia kalah dalam sebuah ajang bergengsi seperti Piala Thomas & Uber di Cina lalu.


"Saya pribadi, paling sering ditelepon, baik talkshow, baik wawancara, terutama pas Indonesia kalah, wah laris manis. (Sedangkan bila) Indonesia menang tak laris. sudah biasa, tetapi sekarang kita laris manis karena kalah terus," ucap dia


Rudi yang kini menjadi penasihat PB PBSI, mengungkapkan bahwa tidak hanya kali ini saja ia mengungkapkan unek-uneknya mengenai keterpurukan perbulutangkisan tanah air, tapi jauh sebelumnya. Namun, saran dan nasihathnya itu tak pernah dianggap oleh para pihak yang berwenang.


"Jadi ya, saya secara pribadi sangat-sangat sedih sekali, dan ini bukan saya ungkapkan kebetulan di tempat ini, (namun) sudah lama sekali, bolak-balik, tetapi ternyata, ya tak tahu didengar atau tidaknya. Padahal saya ini penasihat PBSI, (namun nasihat saya) masuk telinga kiri, keluar terlinga kanan lebih banyak lagi, jadi nol hasilnya,"jelas Rudi lebih detil.


Tim Indonesia mengalami periode terburuk terutama di tim Thomas, di mana baru kali ini Taufik Hidayat dkk kalah dari tim thomas Jepang dan gagal menembus empat besar pada ajang Piala Thomas dan Uber 2012, di Wuhang, Cina. [ska/6]




 

Rudi Hartono: Pemain Tak Fokus karena Gaji & Bonus Terlalu Tinggi 


Jakarta - Kegagalan tim Thomas-Uber Indonesia di gelaran Piala Uber 2012 niscaya memantik kekecewaan publik 'Tanah Air'. Terkait kegagalan tersebut, kritik dan saran pun dilontarkan mantan pebulutangkis nasional Rudi Hartono.

Sekali lagi Indonesia tak kuasa meraih gelar juara di ajang Thomas dan Uber. Kalau Piala Thomas kali terakhir diraih Indonesia pada tahun 2002, Piala Uber justru lebih lama lagi yakni tahun 1996 silam. Untuk tim Thomas, raihan kali ini juga menjadi yang terburuk dalam sejarah keikutsertaan Indonesia.

Di perebutan Piala Thomas-Uber 2012, langkah Indonesia harus terhenti di perempatfinal. Tim Thomas Indonesia lebih dulu kandas, disusul tim Uber beberapa jam kemudian, sama-sama dari tim Jepang.

Mengomentari hal tersebut, Rudi yang semasa bermain pernah meraih delapan gelar juara All England menilai bahwa salah satu faktor kekalahan tim Indonesia adalah kurang primanya para pemain. Selain itu, PB PBSI pun dinilai kurang jeli dalam menjaga stamina pemain.

"Tak semua pemain yang masuk line up dalam performa terbaik sehingga lawan bisa melihat celah ini," kata Rudi ketika dihubungi Harian Detik. 

Selain faktor tersebut, Rudi juga memiliki opini terkait jebloknya prestasi pemain tim Thomas-Uber yang terakumulasi di ajang kali ini. "PBSI memberikan gaji dan bonus kepada pemain terlalu tinggi. Sehingga tak fokus saat bertanding," kata Rudi. 

Dia pun menyarankan agar PB PBSI mulai menyusun kembali nominal gaji pemain, juga pelatih. "Seharusnya ada rasionalisasi gaji," lanjutnya.

 

Pembinaan Usia Dini

Penekanan lain yang kemudian diutarakan Rudi adalah pentingnya aspek pembinaan sejak usia dini. Hal ini idealnya akan berimbas pula kepada regenerasi para pemain di masa mendatang, dalam usaha kembali mengangkat citra bulutangkis Indonesia

Sehubungan dengan hal itu, ia pun menegaskan bahwa peran orangtua sangat penting guna mendorong keberhasilan pembinaan sejak usia dini tersebut.

"Dukungan orangtua sangat diperlukan. Dia (orangtua) akan mengarahkan dan mampu mendorong atlet untuk jauh lebih baik dibandingkan jika atlet itu tidak didukung orangtuanya," kata Dewan Pengawas Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) itu.

Dengan dukungan masyarakat yang sudah sedemikian besar saat ini, PB PBSI dan seluruh pihak yang terkait juga ia harapkan bisa terus berbenah guna membangkitkan prestasi pebulutangkis Indonesia di masa depan.

"Kalau gagal begini siapa yang mau disalahkan atau dimintai pertanggungjawabannya. Ini tanggung jawab bersama terutama pengurus PBSI," lugas Rudi.




Prestasi Bulu Tangkis Nasional di Titik Nadir
Prestasi olahraga bulu tangkis yang menjadi kebanggaan Indonesia berada di titik nadir. Tim bulu tangkis nasional tersingkir di perempat final Piala Thomas, kalah dari tim Jepang yang sedari dulu dianggap lawan ringan bagi Indonesia.


Liputan6.com, Jakarta: Lagu Badminton yang dipopulerkan Benyamin Sueb menjadi salah satu bukti olahraga bulutangkis menjadi olahraga populer di Indonesia.

Dari olah raga tepok bulu angsa, emas pertama diraih Indonesia dalam sejarah Olimpiade melalui perjuangan pebulutangkis Susi Susanti di Barcelona, Spanyol, 1992 silam. Bendera Merah Putih pun berkibar untuk pertama kalinya diikuti tangis bahagia Susi. Prestasi ini diikuti persembahan emas kedua dari Alan Budikusuma yang menjadikan suami-istri ini menjadi pasangan emas Olimpiade.

Sejak dahulu Indonesia memang dikenal sebagai raksasa bulu tangkis dunia. Hal ini terbukti dengan catatan prestasi yang cukup mengagumkan kala itu. Indonesia tercatat meraih 13 kali Piala Thomas, tiga kali menyandingkan Piala Thomas dan Piala Uber. Pretasi yang pernah diukir Tan Joe Hok itu, Indonesia terus melahirkan sejumlah bintang seperti Rudi Hartono, Liem Swie King ataupun Icuk Sugiarto.

Tapi, prestasi emas semakin lama kian menurun. Bahkan, belum lama ini, tim Thomas Indonesia pun harus pulang dari Cina dengan prestasi memalukan kalah di perempat final melawan Jepang. Kegagalan prestasi olahraga di perempat final Piala Thomas menjadi cambuk bagi tim bulu tangkis nasional untuk kembali ke jalur prestasi puncak.

Selain lemahnya regenerasi, beberapa pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menuding kurangnya dana pembinaan yang mengakibatkan minimnya prestasi. Hal ini disesalkan mantan pebulutangkis nasional Rudy Hartono.

"Ini bukan terpuruk lagi, tapi tergeletak. Masak tim nasional kalah sama Jepang yang sebelumnya tidak pernah mengalahkan kita. Ini harus jadi evaluasi bagi pengurus, pelatih dan pemain bulu tangkis kita. Mau dibawa ke mana prestasi olahraga ini," ujar Rudy di Jakarta, Sabtu (26/5).
Kekecewaan serupa diungkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.(ADI/ANS)
  






Rudy Hartono, Pahlawan Asia


Rudy Hartono, Komisaris Utama PT. Topindo Atlas Asia, baru-baru ini dinobatkan oleh majalah TIME Anniversary Issue Nov 13, 2006 sebagai salah satu dari 60 pahlawan di Asia. Beliau termasuk sebagai pahlawan dalam kategori Athletes & Explorers. Nama Beliau disejajarkan dengan orang ternama lain seperti Gandhi, Nehru, Deng Xiao Ping, The Dalai Lama, Li Ka Shing (Raja Properti Hongkong), Mother Theresa, Jerry Yang (pendiri Yahoo), Moh. Hatta, Lee Kuan Yew, Gong Li, Akio Morita, Muhammad Yunus (pemenang Nobel), Bruce Lee dan lain-lain.


Penghargaan ini diraih Rudy Hartono berkat kepahlawanannya di bidang olah raga bulutangkis yang membawa nama harum bagi Indonesia dan Asia di tahun 1968 – 1976, banyak pertandingan dari berbagai turnamen dalam negeri yang telah dimenangkan sehingga pada tahun 1967 diikutsertakan membela Tim Thomas Cup Indonesia dan memenangkan gelar tersebut. Pada usia 19 tahun Hartono telah mengalahkan Tan Aik Huang dari Malaysia dan membawa kembali nama All England untuk Indonesia.


Rekor yang diraihnya belum dipatahkan sampai saat ini yaitu 8 kali Juara All England dengan 7 kali juara berturut-turut dan berbagai gelar juara Internasional lainnya.


Pada masa 8 tahun itu kejayaan Indonesia di bidang Bulutangkis sangat disegani negara-negara lainnya karena pada masa itu bercokol seorang “Raja Badminton Muda”, Rudy Hartono.





Bursa Ketum PBSI, Gita Dekati Mantan Pemain


Jakarta - Gita Wirjawan mulai melakukan pendekatan langsung dengan sejumlah mantan pemain bulutangkis top menjelang pemilihan ketua umum baru di Musyawarah Nasional (Munas) PB PBSI di Yogya pekan ini.

Bertempat di kantor kementerian perdagangan -- Gita adalah juga menteri perdagangan RI -- Senin, (17/9/2012), ia bertemu dengan antara lain Rudi Hartono, Ivana Lie, Ricky Subagya dan Tan Tjoe Hok.

Dikatakan Ivana Lie, kedatangannya bersama sejumlah mantan pebulutangkis tersebut untuk mengetahui visi dan misi Gita. Ia pun mengungkapkan dukungannya.

"Bahwa kami sebagai mantan pemain bulutangkis kami peduli. Kami secara langsung bertatapan dengan Pak Gita membicarakan tentang pencalonan itu. Kami selalu berbicara kriteria. Kami ingin mengetahui. Dan kami mendukung," ujar dia.

Hal senada juga dikatakan Rudy Hartono, yang berharap Gita bisa membawa perubahan bagi bulutangkis Indonesia -- apabila terpilih sebagai ketua umm PBSI.

"Kami mantan pemain menyatakan dukungan untuk suatu perubahan. Pak Gita juga memiliki background di dunia olahraga cukup lama. Mudah-mudahan suporter Indonesia mendukung, dan bulutangkis Indonesia akan bangkit kembali," tukas Rudy.

Munas PB PBSI akan digelar di Yogyakarta, 20-22 September. Selain Gita, calon lain adalah Icuk Sugiarto.


 

Runtuhnya kejayaan “Bulu Tangkis” indonesia

Indonesia memang pernah menasbihkan diri sebagai negara tak terkalahkan dalam olahraga bulutangkis. Bersama China, kita saat itu merajai bulutangkis dunia. Negara ini pernah melahirkan pebulutangkis paling ditakuti lawan-lawannya di seluruh dunia, seperti Rudi Hartono, Lim Siew King, Susi Susanti dan lainnya.
Begitu pula dengan pebulutangkis ganda putra seperti Rexy Mainaky, Tony Gunawan, Ricky Subagja, Candra Wijaya yang memiliki skill di atas rata-rata dan sulit disaingi negara manapun.

Sayangnya semua itu tinggal kenangan. Sekarang prestasi Indonesia makin jeblok. Teranyar, Indonesia gagal di ajang piala Thomas dan Uber 2012.

Indonesia memang sudah tidak cukup layak diperhitungkan sebagai kekuatan bulutangkis dunia. Kalaulah All England dijadikan sebagai ukuran, Indonesia sudah sirna sembilan tahun lalu. Indonesia terakhir sekali meraih gelar juara adalah di tahun 2003, ketika Sigit Budiarto dan Chandra Wijaya meraih gelar ganda putra.
Tentu masih ada prestasi menyegarkan di abad 21 ini, seperti medali emas di Olimpiade maupun di kejuaraan dunia. Tetapi itu semakin sedikit dan semakin jarang.

Banyak penggemar bulutangkis bahkan tak yakin Indonesia masih akan mampu mempertahankan tradisi selalu meraih emas di Olimpiade yang terjaga sejak olahraga ini masuk ke Olimpiade tahun 1992 di Barcelona. Olimpiade London 2012 dikhawatirkan akan menjadi dimulainya era tanpa emas Indonesia di bulutangkis Olimpiade.

Indonesia masih berkutat dengan mencoba menemukan bakat. Liem Swie King, atau juga pemain hebat lain Indonesia semacam Rudi Hartono, Christian Hadinata dan Susi Susanti, adalah berkah buat Indonesia. Dengan sedikit polesan mereka memang pada dasarnya mempunyai bakat di atas rata-rata. Tetapi menemukan pemain dan mencetak pemain adalah dua buah kegiatan yang sangat berbeda, dengan hasil yang sangat berbeda pula.

Berbeda ketika Liem Swie King berada di puncak kejayaannya dunia diperkenalkan dengan gaya bermain yang sama sekali berbeda. Speedand power kata orang. Revolusioner untuk jamannya. Cepat, agresif, bertenaga dengan pukulan andalan variasi permainan net yang mulus dan, tentu saja, smash lompat — King Smash.

Sekarang hanya tinggal kenangan ,mampukah Indonesia bangkit kembali membangun kejayaan bulu tangkis,jawabanya sangat sukar sekali ditebak karena sekarang ini banyak masyarakat Indonesia yang lebih suka dengan kebebasan untuk dirinya sendiri.


 Rudy Hartono

"Sampai Menangis Pun Tetap tak Digubris"

Selasa, 29-05-2012 02:01 ~ Dibaca 686 kali  


INDONESIA pernah punya The Magnificent Seven. Kini mejen. Rudy Hartono miris. Kritis dan menangis pun tak digubris. Pengurus PBSI diminta mematut diri.

Kerusakan sistem dan ambruknya kedigdayaan bulutangkis Indonesia menggugah sejumlah legenda bulutangkis nasional berkumpul. Tujuh petisi dicetuskan. PB PBSI didesak bertanggung jawab atas berbagai kelemahan dan kegagalan yang kian menganga.

Indonesia sempat jadi negara bulutangkis terdepan di dunia. The Magnificent Seven alias 7 pendekar bulutangkis pun dicuatkan Indonesia pada era 1970-1980-an. Berkat sepak terjang mereka, bulutangkis Indonesia sangat ditakuti negara-neara lain.


Mereka adalah Rudy Hartono, Liem Swie King, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Christian Hadinata, dan Ade Tjandra. Tapi, makin ke sini malah makin jeblok.
Rontoknya tim Thomas Indonesia di Wuhan, cuma di tangan Jepang pula, melengkapi rangkaian langkah mundur bulutangkis Merah Putih di berbagai arena internasional.

Itu yang memicu berkumpulnya sejumlah legenda bulutangkis Indonesia. Berangkat dari keprihatinan, mereka terpanggil ikut mencari jalan keluar atas kejatuhan reputasi bulutangkis Indonesia di era kepengurusan PB PBSI saat ini.


Peran dan kontribusi pelatih asing di Pelatnas Cipayung termasuk yang disorot. Jangankan meningkatkan prestasi, memperbaiki yang sudah ada saja mereka ternyata tak mampu.

Buat apa mereka dipertahankan? Lalu, bagaimana dengan kondisi PBSI saat ini bisa mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade 2012 London?

Rudy, yang antara lain mendunia berkat kemampuannya 8 kali menjuarai All England, angkat bicara. Berikut petikan wawancara dengannya:



Evaluasi seperti apa yang menurut Anda harus dilakukan PB PBSI?
Evaluasi secara menyeluruh. Jangan lagi ada tumpang tindih jabatan. Kembalikan sistem dan fungsi pengurus sesuai garis dan kompetensinya. Kalau pengurus bilang sudah berjuang tapi gagal, ya mundur saja. Itu artinya mereka bertanggung jawab. Pengurus daerah juga harus melek. Melihat kebobrokan ini, jangan diam saja.

Dulu, sewaktu saya duduk dalam kepengurusan PBSI dan tim Thomas Indonesia gagal, saya langsung mengundurkan diri. Padahal itu hanya gagal juara. Yang sekarang ini terhenti di perempat final dan kalah dari Jepang pula. Itu adalah sesuatu yang sangat memalukan. Ke mana pun kita pergi, kita pasti malu.

Ibaratnya, borok PBSI tidak bisa lagi disembuhkan dengan cara tambal sulam. Cara menyembuhkan total adalah dengan membuang yang lama dan diganti dengan yang baru. Harus gentle dong. Gagal, ya mundur!

Apakah hasil buruk di Wuhan berpengaruh pada kesiapan pemain menuju Olimpiade 2012?
Harusnya tidak. Tapi, mau tidak mau itu akan berpengaruh pada konsentrasi mereka yang akan turun. Tak bisa dipungkiri, harapan tinggal kepada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ganda campuran. Selebihnya, jujur saya sangat tidak yakin. Nah, untuk itu, peran pelatih yang kualifaid sangat dibutuhkan di saat seperti ini. Untung saja masih ada Christian Hadinata dan Richard Mainaky di pelatnas. Cuma mereka yang kualifaid dan kompeten.

Bagaimana dengan pelatih asing yang ada di Pelatnas Cipayung saat ini?

Kami yang ada di sini adalah yang pernah mengukir sejarah kejayaan bulutangkis Indonesia. Kami punya tanggung jawab untuk mengembalikan dan memperbaiki keadaan yang makin tidak kondusif ini.
Seperti dikatakan Richard Mainaky, dirinya sangat tidak nyaman dengan kehadiran orang asing dalam Pelatnas Cipayung. Bukan soal rahasia, tapi itu mengganggu proses pelatihan yang ada.

Apa prestasi pelatih asing itu? Kalau mereka bisa mempertahankan prestasi, ya silakan. Tapi, ini kan tidak kelihatan hasilnya. Indonesia punya banyak pelatih berkualitas, termasuk para mantan pebulutangkis nasional.
Tim Thomas kalah dari Jepang di perempat final, itu juga lantaran PBSI tidak jeli memilih pelatih yang tepat bagi tim Thomas Indonesia.

Apa langkah yang akan dilakukan jika 7 petisi para legenda ini tak digubris PBSI?

Petisi ini bukan yang pertama. Berulang kali kami menyampaikan hal yang sama. Tapi, sama-sama tidak pernah didengar. Kami yang merintis, kami yang prihatin. Mau nangis juga percuma. Toh, bicara saja tidak dianggap. Ivana Lie sampai bilang mau minta dukungan ke Mennegpora Andi Mallarangeng atau Komisi X DPR RI. Buat saya, jika tiba-tiba dipanggil PBSI, saya pasti datang.

Apa yang Anda lakukan jika Anda jadi Ketua Umum PB PBSI?

Yang pasti saya akan menghapus pelatnas. Buat apa ada pelatnas. Pembinaan dan pelatihan lebih baik dipercayakan kepada klub. Jika ada event, baru jagoan di masing-masing klub diadu untuk mencari yang terbaik. Biar klub yang mengirim atlet-atletnya menuju kejuaraan internasional.

Regenerasi harus lebih baik. Kalau mau pilih pemain itu ada 3 syarat utama yang harus dipenuhi, yakni fisik, teknik, dan mental. Itu bisa didapat melalui riset, development, dan eksperimen.

Bulutangkis adalah milik kita bersama, bukan milik orang per orang. Yang mengurusnya harus orang yang tepat dan duduk pada jabatan yang tepat. Kami siap dipanggil untuk duduk bersama membahas semua ini. Orang-orang yang harus bertanggung jawab atas jebloknya prestasi bulutangkis seharusnya memanggil kami semua yang ada di sini.





Maaf Saja Tak Cukup
Kegagalan tim Indonesia di Piala Thomas memang sudah berlalu. Namun, hash mengecewakan ini hares disikapi series oleh PBSI. Maestro bulutangkis Indonesia yang meraih gelar juara All England delapan kali, Rudy Hartono, menyebut Indonesia tetap bisa bersaing anal ada pembenahan. Berikut penuturannya kepada BOLA:

Bagaimana Anda melihat penampilan pebulutangkis Indonesia di Piala Thomas lain?
Sernua tahu tim kita tidak mencapai target ke final. Pemain memang sudah berlatih dan mempersiapkan diri. Namun, latihan yang dilakukan tidak mencapai sasaran.
Mengucap kata maaf saja seperti sekarang tak cukup. Mereka harus berlatih lebih keras dan membuktikan diri bisa meraih gelar juara.

Seperti apa persiapan yang ideal menurut Anda?
Pertama, sebelum bertanding pemain harus menyiapkan fisik yang prima. Hal ini menyangkut kekuatan, ketahanan, dan kecepatan. Sekarang tipe permainan yang berkembang mengandalkan power dan speed. Percuma kalau pemain bisa main dengan tipe itu tapi hanya bertahan dua gim karena kondisi fisik tak memadai. Di gim ketiga lawan yang kondisi fisiknya lebih siap tentu bisa menang. 

Setelah itu, pemain hares berlatih teknik dan akurasi pukulan. Kalau hal pertama tak tercapai, bagaimana bisa mengeluarkan akurasi dan teknik yang sempurna?

Dua hal tersebut berhubungan dengan mental. Bagaimana pemain punya mental bagus jika merasa tak siap? Pemain yang merasa siap berhadapan dengan lawan dengan bekal latihan keras otomatis punya mental bertanding yang bagus. Terakhir barn bicara strategi. Tanpa persiapan bagus, strategi apa pun tak akan berjalan lancar.

Apa metode kepelatihan yang salah? Perlu inovasi?
Tidak juga. Di mana pun semua pelatih hampir sama metodenya. Percuma pelatih membuat program bagus, tapi tak dijalankan dengan serius dan sungguh-sungguh oleh pemain. Implementasinya tidak sesuai dan kurang berkualitas.

Proses pengiriman pemain ke turnamen luar negeri sudah betui?
Harus ada punishment dan reward Hal ini yang tak ada di pelatnas. Sekarang, kalah atau menang, pemain tetap saja dikirim. Jangan terns beralasan tetap dikirim untuk mengejar poin ke Olimpiade. Tak bisa seperti itu.

Kalau terns dikirim ke turnamen mereka memang dapat poin untuk tiket ke Olimpiade. Tapi, apa gunanya kalau di Olimpiade hasilnya sudah bisa ditebak, karena persiapan yang kurang kita gagal. 

Kalau gagal, hares ada punishment. Bentuknya bukan cuma tak dikirim ke turnamen. Mereka harus dilatih lebih keras. Semua hasilnya hares diukur secara berkala. Ada parameterya. Jika sudah mencapai target, baru dikirim lagi ke turnamen.

Punya saran bagi pemain sekarang?
Mereka harusnya mandiri dan sadar bahwa mereka adalah atlet profesional. Tak usah disuruh atau dipaksa latihan sudah sadar dan melakukannya sendiri. Malah kalau perlu menambah porsi latihan.

Jangan sedikit-sedikit mengeluh capek atau bosan. Mau juara ya harus menderita. Mungkin ada yang bilang dulu persaingan belum seketat sekarang. Tapi, tetap saja latihan keras diperlukan untuk menjadi juara. Tak ada gelar juara yang dicapai dengan mudah.

Pemain yang banyak merath gelar pasti menderita saat latihan. Pemain Korea pasti latihan lebih keras sehingga akhirnya bisa menang atas kita.


Rangsangan Bonus
 
Soal hubungan bonus dan hadiah dengan motivasi pemain sekarang?
Sekarang pemain diiming-imingi bonus dan hadiah besar. Mereka harusnya juga man berlatih keras. Tak masalah kalau mereka sekarang orientasinya uang. Zaman sekarang mereka butuh uang untuk hidup. Hal itu wajar.

Tapi, mereka harus konsekuen. Kalau memang mau mengejar hadiah, mereka juga harus mau latihan ekstra keras. Jangan cuma mau hadiahnya saja tapi mengejarnya kurang.

Komentar soal regenerasi yang lambat?
Kesenjangan pasti ada. Kita juga tak bisa berharap pada Taufik Hidayat terns. Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso apa betul mentok kemampuannya? Apa mereka sudah maksimal latihan?

Soal regenerasi, sistem yang harus diperbaiki. Sekarang harus ada kerja sama dengan pemerintah untuk lebih memasalkan bulutangkis mulai dari sekolah. Kan bisa, klub menerima pemain yang setengah jadi. Kita tak bisa terns mengharap klub memproduksi pemain dari nol.

Peluang Indonesia untuk meraih emas Olimpiade 2012?
Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Kalau mau serius memperbaiki diri tentu peluang tetap ada. Kita bukannya sengaja mau mencari kelemahan saja. Tapi, kelemahan yang ada hendaknya diperbaiki supaya Indonesia tetap bisa berprestasi.

Jangan sampai pemain merasa pesimistis. Sekarang tinggal melihat kesungguhan dari pemain, mau atau tidak mereka berlatih keras untuk meraih prestasi?





 
Rudy Hartono, menilai perlu ada punishment dan reward buat pemain.
Dari berbagai sumber ~ Sumber Photo: Google

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar